Bajak Laut “Modern” Somalia: Demi mempertahankan hidup


Para pembajak laut “modern” ini sebetulnya timbul akibat kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang ditandai dengan tidak berfungsinya pemerintahan Somalia untuk menjamin ketertiban warganya.

Kondisi itu dimulai pada masa pemerintahan Mohamed Siad Barre. Tentara berpangkat Mayor Jenderal itu menjadi pemimpin Somalia setelah terbunuhnya mantan perdana menteri Shermarke pada 1969. Pada masanya, Somalia mengalami kekeringan dan kelaparan yang meluas pada 1974-1975.

Negeri yang memiliki garis pantai terpanjang di benua Afrika sepanjang 3.025 km itu semakin diperkeruh akibat tindakan Barre yang hanya memilih suku bangsanya sendiri, klan Marehan, untuk mengisi posisi-posisi di pemerintahan pada 1981. Merasa diperlakukan diskriminatif, klan Mijertyn dan klan Isaq bersekutu melawan pemerintahan Barre setahun kemudian sejak 1982. Pemberontakanpun tak terhindarkan sehingga perang sipil ikut terjadi.

Meskipun akhirnya Barre berhasil disingkirkan sejak 1991, perang saudara terus berlanjut. Sebanyak 50.000 orang menjadi korban perang saudara ditambah sekitar 300.000 orang tewas kelaparan akibat sulitnya distribusi makanan pada saat itu.

Kondisi kehidupan yang serba sulit termasuk tingginya harga pangan serta anarkisme sejak saat itu membuat orang-orang Somalia yang terus memegang senjata pascapemberontakan hanya memikirkan satu-satunya hal terpenting bagi para preman wilayah, geng dan klan, serta keluarga mereka yakni: mempertahankan hidup.

Merekapun menjadi pembajak laut mengingat situasi sebelah timur Somalia yang rutin dilewati kapal-kapal internasional. Markas mereka berada di Puntland, sebelah utara Somalia. Diperkirakan jumlah mereka mencapai ribuan orang walaupun sebenarnya tidak dapat dipastikan.

Dengan menyuap para pejabat pemerintahan di kota pelabuhan Eyl dan kota-kota lainnya merekapun dapat leluasa melakukan aksi-aksi pembajakan. Kota-kota pelabuhan dijadikan sebagai markas operasi termasuk sebagai tempat kapal-kapal bajakan sementara negosiasi tebusan dilakukan dengan pemilik kapal.

Menurut berita yang beredar di internet, para ekspatriat Somalia yang tinggal di sepanjang Teluk Persia termasuk Kenya dan Arab Saudi ternyata memberikan informasi mengenai kapal-kapal yang telah berlabuh di kawasan itu kepada para bajak laut.

Sejak tahun 2008 aksi-aksi para bajak laut di wilayah Samudera Hindia termasuk Laut Arab semakin intensif. Pada tahun 2010 lalu tercatat sekitar 70 kasus pembajakan. Rata-rata pembebasan yang akhirnya mereka setujui berlangsung setelah 150 hari hingga 6 bulan terhitung sejak kapal dibajak. Kapal-kapal dari berbagai negara pernah menjadi sandera kelompok kejahatan terorganisasi (organized crime) ini antara lain Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Panama.

Sumber:
Metrotv 751.25MHz
Microsoft Encarta 2009
http://www.csmonitor.com

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s