Insiden MV Sinar Kudus 16 Maret 2011


Mengapa pemerintah Indonesia lebih memilih opsi negosiasi ketimbang opsi militer dalam isu penyanderaan dan pembajakan kapal MV Sinar Kudus?

Sudah sebulan lamanya MV Sinar Kudus disandera oleh para bajak laut di Somalia. Kapal milik PT Samudera Indonesia itu dalam perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara ke Rotterdam, Belanda untuk mengekspor 8.300 ton feronikel (bijih besi) senilai Rp 1,5 triliun milik PT Aneka Tambang Tbk pada 16 Maret 2011.

Disangka aman, kapal yang melewati jalur Laut Arab – Teluk Aden di sebelah selatan Yaman itu malah dihadang oleh kapal-kapal para bajak laut. Akibatnya kapal beserta 31 orang ABK (20 orang diantaranya berkewarganegaraan Indonesia) itu  digiring menuju pelabuhan Somalia. Hingga kini mereka masih disandera hingga tuntutan tebusan US$ 3 juta dibayarkan!

Pihak PT SI dan pemerintah Indonesia menawarkan US$ 2,65 juta atas tebusan itu namun belum disetujui para pembajak tersebut. Tanggal 18 April 2011 mendatang dijanjikan bahwa PT SI akan membayar uang tebusan tersebut.

Keadaan para ABK dilaporkan sangat memprihatinkan. Mereka sempat mengalami diare kritis. Selain itu mereka juga mengalami kendala dalam hal obat-obatan, makanan, dan minuman, serta air bersih. Dalam beberapa kesempatan yang terbatas baru-baru ini, para pembajak Somalia itu sempat memperbolehkan sejumlah ABK mengadakan kontak dengan keluarga mereka di Indonesia.

Prioritas keselamatan para ABK
Negara kita memiliki pasukan-pasukan khusus untuk menangani insiden pembajakan, terorisme, dan penyanderaan seperti ini. Indonesia Raya ini memiliki Pasukan Katak Angkatan Laut, Detasemen Khusus (Densus) 88 Angkatan Darat, dan Komando Pasukan Khas (Paskhas) Angkatan Udara. Lagipula, sebetulnya pihak pemerintah Somalia melalui Duta Besarnya di Jakarta telah menyatakan mengungkapkan permintaan terhadap Indonesia untuk melakukan operasi militer sebagaimana pernah dilakukan oleh Malaysia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Namun, di manakah mereka? Persoalannya bukan karena pasukan militer kita tidak mampu, namun, pada kenyataannya pemerintah memutuskan penggunaan opsi negosiasi demi keselamatan nyawa para ABK kapal MV Sinar Kudus.

Sebagaimana diterangkan oleh Menkopolkam RI bahwa opsi negosiasi itu menjadi upaya utama mengingat kapal Indonesia tersebut tidak lagi berada di lautan tetapi sudah dilabuhkan di daratan sehingga penggunaan kekuatan militer menjadi opsi terakhir apabila negosiasi mengalami kegagalan.

Opsi negosiasi dengan mengenyampingkan opsi militer ini pun didukung oleh para keluarga korban. Hal ini menjadi langkah “hati-hati” yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Sejak 16 April 2011 kemarin kapal perang Indonesia yang dipersiapkan dengan sebuah helikopter diberitakan mendekati wilayah Somalia.

Pemerintah Indonesia perlu bersikap hati-hati agar nyawa para ABK tetap selamat. Amerika Serikat, Malaysia, dan Korea Selatan memang pernah berhasil menumpas para pembajak dan menyelamatkan warga negara mereka. Kendatipun demikian, tidak selamanya penggunaan kekuatan militer bisa berhasil sepenuhnya. Para pembajak ini bisa saja ditumpas, tetapi belum tentu dengan cara itu nyawa para sandera bisa diselamatkan.

Berkaca dari pengalaman Amerika Serikat

Pemerintah Indonesia mesti belajar dengan pengalaman negara lain dalam menghadapi para pembajak Somalia ini. Contohnya adalah pengalaman Amerika Serikat. Pada 12 April 2009 pasukan Navy Seal memang berhasil menyelamatkan seorang kapten kapal yang menjadi satu-satunya sandera dalam waktu lima hari saja. Seorang pembajak yang tertangkap pada tahun itu juga akhirnya divonis hukuman 33 tahun penjara.

Tetapi, baru-baru ini tepatnya pada 22 Februari 2011 empat orang warga negara Amerika Serikat yang memasuki Samudera Hindia dengan sebuah yacht ditembak mati oleh para pembajak. Keempat orang tersebut dalam perjalanan keliling dunia. Sementara dua pembajak tewas dan 13 lainnya tertangkap oleh pasukan AS yang mengambil alih yacht itu. Dalam pembicaraan dengan kantor berita Inggris, Reuters, pihak pembajak mengatakan bahwa mereka terpaksa membunuh para sandera karena pasukan AS telah menyerang mereka.

Semoga saja langkah “hati-hati” yang ditempuh pemerintah Indonesia membuahkan hasil yang baik demi keselamatan nyawa seluruh ABK MV Sinar Kudus. Hal ini adalah yang prioritas utama yang mesti berhasil.

Kita berharap pemerintah bersama PT Samudera Indonesia tetap melakukan kontak sebaik mungkin demi negosiasi ataupun tindakan yang memungkinkan lainnya sehingga korban jiwa tidak terjadi dalam masa-masa yang sulit ini. Kiranya seluruh rakyat Indonesia juga mendoakan para ABK agar tetap sehat dan akhirnya dapat dibebaskan dalam keadaan selamat.

Sumber:
Metrotv 751.25MHz
http://www.metrotvnews.com
http://www.detik.com
http://www.tempointeraktif.com
http://www.msnbc.com

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s