Membentuk Karakter yang Benar (Versi Protuslanx)


Hidup memang rumit. Kita diberi pilihan oleh-Nya untuk menyusuri jalan mana yang kita tuju dalam hidup. Hidup bukanlah sebuah jalan yang benar-benar lurus. Ada banyak pilihan. Ada banyak variasi. Ada banyak jalan. Ada banyak cara. Ada banyak kemungkinan.

Lepas dari kontroversi antara linearitas dan kebebasan kehidupan, Protuslanx berpendapat bahwa manusia diciptakan dengan segala kompleksitas keduanya. Takdir dan penentuan Sang Pencipta memang ada, namun Ia juga memberi kita kebebasan untuk menentukan pilihan dalam kehidupan. Itulah yang membuat manusia memiliki akal pikiran dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya.

Hidup = Kustomisasi Karakter Diri Sendiri

Menurut Protuslanx, hidup itu ibarat memainkan The Fate of Hellas, sebuah game komputer berbasis real time strategy (RTS). Apa yang disajikan dalam layar itu memberikan kita kebebasan untuk mengkustomisasi prajurit-prajurit yang kita inginkan sebelum dan selama berperang. Tentu saja tidak mudah, upgrade senjata primer, senjata cadangan, dan perisai butuh waktu. Jadi, harus bisa bertahan dan bersabar sampai semua prajurit bisa di-upgrade ke level kustomisasi yang lebih tangguh.

Begitu pula dengan hidup. Dunia ini menawarkan banyak hal. Dari seluruh penjuru mata angin, barat, timur, utara, selatan, baratdaya, tenggara, baratlaut, dan timurlaut mempengaruhi seluruh hidup kita.

Dari situlah terbentuk karakter. Apa yang kita suka, apa yang kita lihat, apa yang kita rasa, apa yang kita kita pilih, dan apa yang kita percayai maka itulah yang membentuk karakter kita.

Kompleks? Ya memang!

Pikiran Bukanlah Gudang Sembarangan

Protuslanx lebih memilih untuk tidak memasukkan apapun ke dalam pikiran seolah-olah otak adalah gudang segala informasi. Bagi Protuslanx, hal yang benar adalah mencatat kebenaran dalam pikiran dan tidak perlu menyimpan hal yang buruk dari sesuatu. Dan, tidak perlu juga ikut-ikutan dengan pola pikir kebanyakan orang. Menjadi diri sendiri, itu yang benar!

Bagaimana dengan trend emotional voyeurs di era internet ini? Menurut Protuslanx, jika Anda ingin berpikir positif, jangan ikut bergabung dengan mereka! Sebaliknya, bagi orang-orang yang mengalami masalah, jadilah penyimak yang peduli.

Peduli bukan untuk menyenangkan perasaan diri sendiri, tetapi untuk membantu orang-orang yang mengalami masalah dalam hidupnya. Lalu? Tentu saja berikan saran dan nasihat baik untuk kehidupan mereka. Itulah yang seharusnya dilakukan para netter Indonesia!

Pikiran Positif (+) versus Pikiran Negatif (-)

Membentuk karakter diri sendiri itu memang terpolarisasi antara positif dan negatif. Positif (+) adalah hal-hal yang semakin menambah kebenaran untuk kebaikan diri. Makna positif membuat hidup lebih dimaknai optimisme. Negatif (-) adalah hal-hal yang semakin mengurangi kebenaran untuk kemunafikan diri. Makna negatif membuat hidup hanya diburamkan sinisme.

Pikiran positif menjadikan pikiran dan hati nurani menjadi lebih terang, lebih terbuka, lebih jujur dengan diri sendiri, lebih tulus melakukan kebenaran, dan lebih mengintrospeksi diri.

Sementara, pikiran negatif menjadikan pikiran dan hati nurani menjadi lebih suram, cenderung diskrimatif, cenderung munafik, cenderung sok tahu untuk menutupi ketakutan dan kekurangan diri, dan malah cenderung menyalahkan orang atau pihak lain.

That’s the way it is….

Optimisme Versus Pesimisme

Optimisme mengarah pada sisi positif, sementara pesimisme mengarah pada sisi negatif. “Saya coba lagi, harus bisa!”, itu positif. “Alah, biarkan saja paling-paling juga batal!”, itu negatif. Ketika kita berhadapan dengan kesulitan yang harus dihadapi dalam kehidupan, pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dalam otak kita.

Optimisme membawa keberhasilan. Itulah yang membuat negara seperti halnya Jepang bisa maju. Demikian juga dengan Korea Selatan dan Tiongkok (China), jika kita ingin menambahkan contoh lain.

Sekalipun mereka pernah mengisolasikan diri (1640-1868; era-nya Shogun Tokugawa) sebagai bentuk pesimisme yang benar-benar kolot untuk tidak mau berubah lebih baik (yang tidak pernah terjadi di Nan-hai alias Dwipantara alias Jaza’ir al-Jawi alias Indische Archipel alias Oost Indie alias Maleische Archipel alias Nederlandsch-Indie alias To-Indo alias Indian Archipelago alias Indonesia yang tercinta ini, setahu Protuslanx…), namun mereka terbukti bisa melampaui segala ketertertinggalan mereka untuk berada di tempat-tempat terhormat sejajar dengan negara-negara Barat dan negara-negara maju lainnya.

Jadi, janganlah pesimistik. Jadilah orang yang optimistik. Hindari bergaul terlalu dekat dengan orang-orang pesimistik yang sering sinis, mengeluh, meremehkan, dan melebih-lebihkan pembicaraan. Kendalikan pikiran dan hati nurani kita untuk lebih menerima hal-hal yang berguna untuk kehidupan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dengan benar.

Protuslanx sendiri merasa bahwa pembentukan karakter membutuhkan waktu seumur hidup. Bermain RTS game seperti The Fate of Hellas memang lama, apalagi kehidupan yang sebenarnya, tentu saja selama nafas kita masih diijinkan Sang Khalik untuk terus diisi dengan oksigen. Jika gagal, coba lagi. Jika salah, perbaiki diri kembali. Kita sepatutnya setiap detik bersyukur untuk kesempatan itu!

μηδέν satis Νησί βέλτιστη…

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s