Revolusi Tunisia 14 Januari 2011


Demonstrasi Rakyat Tunisia dengan poster Mohamed Bouazizi pada 28 Januari 2011 menyusul berakhirnya pengaruh partai berkuasa pendukung mantan presiden Ben Ali (http://msnbc.msn.com)

Negara Tunisia mungkin terdengar agak kurang familiar. Namun, apa yang terjadi melalui pemberitaan media massa akhir-akhir membuat nama negara ini menjadi salah satu momentum bahwa di era demokrasi modern ini ternyata masih ada negara yang dipimpin oleh rezim otoriter. Khususnya di Afrika Utara yang selama ini agak sepi pemberitaan jika dibandingkan dengan kawasan lain seperti di Eropa dan Asia.

Dan, otoritarianisme itu pun ambruk. Rakyat untuk pertama kali di negeri ini membuktikan bahwa keadilan sosiallah yang mereka perlukan. Bukan pemerintahan besi. Negara yang berada di utara Afrika ini mengalami pergolakan politik akibat tidak terwujudnya keadilan secara nyata dalam kehidupan masyarakatnya.

Inilah yang juga pernah terjadi di Indonesia ketika negeri ini dipimpin oleh Soeharto selama 32 tahun. Eks-presiden Tunisia Zine El-Abidine Ben Ali dan istrinya telah meninggalkan Tunisia akibat desakan rakyat sejak menyatakan diri mundur dari jabatan kepresidennya pada 14 Januari 2011 lalu. Ben Ali telah berkuasa di Tunisia sejak 1987. Ia dan istrinya kini tinggal di Arab Saudi.

Untuk sementara keadaan darurat nasional di negeri itu dijalankan oleh Ketua Parlemen Tunisia Fuad Almabzieg oleh Perdana Menteri Mohammed Ghannouchi sesuai Konstitusi Mesir. Persatuan politikpun diperlukan untuk menjaga keamanan di negeri yang dibangun oleh Habib Bourguiba itu.

Sang Perintis Mohammed Bouazizi

Dalam data statistik profil negara-negara Arab, angka pengangguran di Tunisia tergolong kecil dibandingkan negara Arab lain, yakni hanya 13 persen dari angkatan kerja. Di Yaman, tingkat pengangguran mencapai 30 persen.

Kekuatan daya beli rakyat Tunisia lebih baik ketimbang Libya, Sudan, dan Bahrain. Tunisia juga dikenal memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan terbaik di dunia Arab. Tunisia menduduki peringkat ke-18 di dunia dalam besaran anggaran pendidikan. Pengguna telepon genggam di Tunisia lebih banyak dibandingkan dengan di Suriah, Lebanon, Jordania, dan Yaman.

Jika demikian mengapakah revolusi di Tunisia bisa terjadi di tengah-tengah suasana yang cenderung statis di Afrika Utara? Bukankah tingkat pendidikan dan ekonomi Tunisia sudah cukup baik? Faktanya, masalah Tunisia selama 23 tahun kepemimpinan Zine El-Abidine Ben Ali tidak saja menyangkut politik tetapi juga soal ekonomi. Dalam segi politik, rakyat Tunisia sudah tidak percaya lagi kepada pemerintahnya.

Korupsi dinilai telah menodai nilai perjuangan rakyat untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Imbasnya adalah pengangguran intelektual. Dari segi ekonomi, pengangguran dan tingginya biaya hidup turut mengkobarkan semangat juang rakyat Tunisia untuk bangkit dari keterpurukan akibat tidak adanya perhatian dari pemerintah pusat.

Revolusi politik di Tunisia berawal dari seseorang bernama Mohammed Bouazizi di kota Sidi Bouzid. Ia adalah seorang lulusan perguruan tinggi yang menjadi pedagang buah akibat tingginya pengangguran intelektual dan korupsi.

Bouazizi pun serta-merta menjelma menjadi simbol perjuangan kaum miskin di Tunisia. Iapun akhirnya diakui menjadi Pahlawan Kemiskinan Tunisia sekaligus sebagai Pahlawan Revolusi Tunisia itu sendiri.

Pada 17 Desember 2010 lalu Bouazizi mencoba bunuh diri dengan membakar diri ketika polisi menyita dagangannya berupa buah-buahan dan sayur-sayuran yang menjadi satu-satunya gantungan hidupnya. Ia melakukan hal itu selepas ibadah Jumat di depan kantor Pemerintah Daerah Sidi Bouzid, kota kelahirannya.

Aksi solidaritas pun terjadi sehari kemudian. 18 Desember 2010 menandai dimulainya aksi demonstrasi besar-besaran, aksi kekerasan dan kerusuhan hingga 27 Januari 2011. Tindakannya itu memicu aksi unjuk rasa kaum miskin dan penganggur di Sidi Bouzid hingga akhirnya menyebar ke seluruh negeri selama lebih dari dua pekan meliputi ibukota Tunis, kota Talah, Sfak, Cartagho, Al Qairawan, dan kota-kota lainnya.

Bahkan, warga Tunisia yang berada di Eropa pun ikut berunjuk rasa melawan pemerintahnya sendiri di kedutaan dan konsulat Tunisia. Kekacauan akhirnya tak terhindarkan. Rakyat yang terdiri dari berbagai elemen mulai dari beragam profesi cendekiawan, politisi, akademisi, pengacara, dan lain-lain bergabung dengan para penganggur di seantero negeri itu untuk turun ke jalan-jalan.

Sebagian rakyat menjadi kehilangan akal sehat. Penjarahan mereka lakukan di berbagai tempat, kantor-kantor, toko-toko, sampai rumah sakitpun tidak luput dari aksi-aksi anarkis.

Segala sesuatu memang harus diperjuangkan bahkan harus dibayar nyawa. Demikianlah yang dilakukan rakyat Tunisia. Tingginya biaya hidup, pengangguran yang tak teratasi, dan kebebasan beraspirasi yang dikekang oleh pemerintah pusat menyebabkan rakyat Tunisia harus bertindak.

Setelah dirawat di rumah sakit selama 19 hari, Mohammed Bouazizi akhirnya menghembuskan napasnya yang terakhir pada 5 Januari 2011 pada umur 26 tahun. Lima ribu orang datang melayat dalam pemakamannya. Sang perintis revolusi Tunisia modern itu pun menyisakan perjuangan tidak hanya bagi dunia Arab tetapi juga bagi seluruh rakyat di dunia.

Secara kronologis pada 8 Januari 2011, sedikitnya 20 orang tewas ditembak mati oleh pihak kepolisian yang meliputi kota Rgebm dan kota Gassrine. Pada 11 Januari 2011, di perempatan Ettadhamen terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh ratusan anak muda yang menyerukan perlawanan terhadap pemerintah.

Mereka membakar kendaraan dan menyerang kantor-kantor pemerintah. Hingga revolusi itu berakhir lebih dari 200 orang tewas dan lebih dari 90 orang terluka. Esoknya, jam malam mulai pukul 20.00 hingga 05.30 diberlakukan oleh pemerintah menyusul kerusuhan akibat demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan orang sehari sebelumnya.

Pada saat itu ada larangan bagi warga untuk berkumpul lebih dari tiga orang. Jika itu terjadi, maka polisi tidak segan-segan untuk menembak warga yang melanggar aturan. Pascamundurnya Zine El-Abidine Ben Ali dari kursi kepresidenan, dua hari setelah itu terjadi perlawanan dari pihak yang masih loyal terhadapnya.

Baku tembak pun terjadi sehingga dua orang pasukan Istana Kepresidenan tewas. Penembakan dilakukan seorang penembak jitu dari sebuah helikopter. Ini membuktikan bahwa meskipun Ben Ali ditolak oleh rakyatnya sendiri di pihak lain terdapat kalangan termasuk politisi yang ingin mendapatkan momentum dari pergolakan politik itu.

Pada saat itu rakyat sendiri merasa terancam akibat kerusuhan massal itu. Barikade tank juga disiagakan di sekitar ibukota Tunis dan ten¬tara melakukan pengamanan taktis terhadap gedung-gedung. Malam hari, rakyat Tunis memblokade jalan-jalan dengan meng¬gunakan pohon-pohon dan tempat sampah untuk melindungi harta mereka dari para penjarah.

Revolusi itupun berakhir pada 27 Januari 2011 lalu yang ditandai dengan perombakan kabinet pemerintahan oleh Perdana Menteri Mohamed Ghannouchi dengan memberhentikan seluruh bekas anggota Partai RCD, partai pendukung eks-presiden Ben Ali.

Introspeksi Bagi Indonesia dan Seluruh Dunia

Media massa di dunia Arab, termasuk di Tunisia sendiri, menyebut Revolusi Tunisia itu sebagai Revolusi Sidi Bouzid. Versi lain menyebutkan hal itu sebagai Revolusi Melati. Krisis politik di Tunisia telah merambat ke Aljazair dan Mesir.

Bahkan di Mesir ratusan orang telah tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat bentrokan dengan pihak kepolisian. Para pengamat memprediksi bahwa apa yang telah terjadi di Tunisia yang ditandai dengan suksesi kepemimpinan yang tidak didukung oleh rakyat menimbulkan efek domino di Afrika Utara dan dunia Arab seperti di Yaman dan Yordania.

Semoga saja di Indonesia hal ini menjadi cermin bagi pemerintah incumbent. Apalagi di Indonesia sering terjadi penggusuran terhadap Pedangan Kaki Lima (PKL) oleh petugas-petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang seringkali bertindak tidak manusiawi. Pemerintah pusat dan daerahpun secara umum belum menyediakan tempat bagi para PKL secara cuma-cuma.

Lepas dari kontroversi politik, Isu kebohongan pemerintah yang mencuat ke permukaan seperti persentase pengangguran, kesehatan ibu dan bayi, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya bisa saja menjadi pemicu terjadinya revolusi dari rakyat Indonesia.

Dalam konteks kenegaraan kontemporer, rakyatlah yang menjadi penentu penyelenggaraan negara, bukan oligarki apalagi otokrasi berbungkus demokrasi.

Sumber:

http://www.kompas.com

http://www.rakyatmerdeka.co.id

http://en.wikipedia.org/Wiki/Main_Page

http://beritapopulerz.blogspot.com

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s