Respek Diri, Respek Lingkungan


Seberapa pentingkah lingkungan (alam sekitar) bagi kehidupan kita sehingga kita harus memperhatikan kelestariannya? Bukankah alam sendiri justru menyebabkan bencana terparah yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda dalam sejarah kehidupan umat manusia? Bukankah isu lingkungan seperti halnya perubahan iklim (climate change) hanyalah teori yang pada kenyataannya tidak berpengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia?

Potret seorang pria melihat ke arah kebakaran hutan di Beloomut, Rusia pada 1 Agustus 2010. Kebakaran hutan di Rusia disebabkan kekeringan dan anomali suhu yang sangat tinggi (38-40 derajat Celsius). Bencana itu menewaskan 56.000 orang (versi Munich Re) akibat langsung dari kabut asap dan panas, terutama di Provinsi Dagestan. Kerusakan ribuan hektar ladang gandum, bangunan sebanyak 2.000 unit, dan kerugian senilai USD 15 miliar (http://www.boston.com)

Akhir-akhir ini terjadi bencana alam dan bencana ekologis yang berhubungan seperti Badai Katrina, Kebakaran California dan Victoria, banjir bandang di bagian selatan China, Banjir Bandang Queensland, hingga Banjir Bandang Brasil. Sementara, tsunami yang terjadi pada 2004 yang menimpa Aceh, India, Sri Lanka, Thailand, Maladewa, dan wilayah Afrika Timur telah menewaskan lebih dari 200.000 orang.

Menurut Protuslanx, dampak terhadap lingkungan atau alam sekitar kita bukanlah soal jangka pendek. Itu bukanlah mengenai kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Justru, lingkungan atau alam sekitar ini adalah soal jangka panjang yang akan dijalani oleh generasi kita yang akan datang. Ini menyangkut anak, cucu, cicit, cici dari cicit, dan seterusnya yang akan menggantikan generasi sekarang sebagai penghuni planet Bumi.

Lingkungan Meliputi Keterhubungan Biotik dan Abiotik

Lingkungan (Inggris environment) merupakan seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi suatu organisme. Faktor-faktor pengaruh ini bisa saja faktor biotik (organisme hidup, dalam hal ini adalah manusia itu sendiri, tumbuhan, hewan, cendawan, dan bentuk-bentuk kehidupan lainnya) ataupun faktor abiotik (faktor yang tidak memiliki ciri hidup, seperti halnya temperatur/ suhu, curah hujan, lamanya hari, angin, dan arus lautan). Interaksi ini membentuk ekosistem dalam sebuah materi yang kita tinggali bernama planet Bumi.

Oleh karena itu, apa yang terjadi akibat perbuatan manusia sendiri ataupun oleh faktor-faktor alam dapat saling mempengaruhi yang tentu saja berujung pada dampak yang dialami unsur biotik, yaitu manusia (kita sebagai warga Bumi), tumbuhan, hewan, hingga tanah, air (baik di lautan, sungai, danau, air yang terkandung di bawah tanah, dan lain-lain), dan udara.

Secara garis besar, lingkungan atau alam sekitar terancam oleh beberapa hal mulai dari efek pertumbuhan populasi penduduk dunia, pemanasan global, penipisan Lapisan Ozon, perusakan habitat dan pemusnahan spesies (termasuk keanekaragaman hayati), polusi udara, polusi air, berkurangnya dan tercemarnya kandungan air bawah tanah, risiko kimiawi, kesenjangan dari segi ekonomi, dan produksi energi.

Jadi, isu lingkungan ini mencakup banyak hal yang meliputi seluruh dunia. Sebagaimana dalam interaksi (layaknya ekosistem) maka apa yang dilakukan manusia dalam hal materi dasar (seperti ketersediaan pangan, akses terhadap air, dan akses terhadap energi), juga unsur kesehatan, keamanan, hubungan sosial dan kultural, serta kebebasan pilihan (freedom of choice) akan terus menjadi bagian penggerak bagi kelestarian lingkungan.

Dunia Barat dan negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, pada dasarnya memang memegang kendali atas terjadinya perubahan terhadap lingkungan serta reaksi-reaksi dalam level kebijakan (policy) tingkat internasional terhadap isu lingkungan itu sendiri. Kekuatiran global dengan mengusung perubahan iklim (climate change) itu muncul karena industrialisasi skala masif yang terjadi di negara-negara mereka diberi peringatan (warning) oleh para ilmuwan Barat dan negara-negara maju.

Semakin banyak pabrik, yang mesin-mesinnya berbahan bakar diesel (diolah dari minyak bumi),  berarti semakin banyak gas-gas karbon dioksida dan nitro oksida yang dilepas ke udara. Semakin banyak kendaraan transportasi berbahan bakar olahan dari gas alam dan minyak bumi (bensin, kerosin, avtur, dan lain-lain) maka semakin banyak pula gas-gas tersebut di atmosfer bumi.

Terjadilah efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global. Kemudian, pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim sebagai akumulasi dari efek-efek negatif terhadap lingkungan itu menyebabkan cuaca menjadi tidak menentu, terjadi badai besar-besaran, kekeringan di wilayah tropis dan subtropis, badai topan, glasier yang semakin mencair di mulai dari Lautan Arktik hingga Benua Antartika, terus naiknya permukaan laut, hasil panen pertanian yang terganggu oleh pola cuaca terhadap pola tanam, rusaknya ekosistem hingga kepunahan flora dan fauna, serta kesehatan manusia sendiri termasuk bertambahnya penyakit.

Walaupun hal ini menjadi perdebatan, karena alam sendiri juga turut melakukan hal yang sama pada masa purbakala, acuan kita adalah fakta-fakta yang bisa kita rasakan sendiri. Secara formal, acuan kita terhadap perubahan iklim ini adalah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah badan dunia yang dibentuk pada 1988.

Menurut Laporan Penaksiran Keempat yang dikeluarkan IPCC pada 2007 bahwa lebih dari 90 persen terjadinya perubahan iklim ini disebabkan oleh ulah manusia sejak abad ke-20. IPCC ini meliputi ribuan ilmuwan terkemuka dari seluruh dunia.

Isu lingkungan atau alam sekitar ini menjadi penting sebagai topik global sejak tahun 1970-an/ 1980-an di mana pada saat itu negara-negara Barat menjadi exhausted alias terkuras secara ekonomi (terutama) akibat Perang Dunia II. Pembangunan ekonomipun menjadi fokus utama negara-negara itu agar lepas dari kebangkrutan akibat biaya yang terlalu besar telah dikeluarkan untuk anggaran militer maupun untuk pemulihan pascaperang.

Selain didorong oleh efek proses dari revolusi industri (yang dimulai dari Inggris sejak abad ke-18, kemudian meluas ke Amerika Utara dan Eropa hingga ke seluruh dunia) negara-negara maju ditambah dengan munculnya kekuatan ekonomi baru seperti Jepang, Cina, Korea Selatan, India, Brasil, dan Rusia maka dampak terhadap lingkungan pun turut menjadi efek yang menyertainya. Indonesia sendiri bahkan menjadi negara urutan ketiga penyebab emisi gas rumah kaca (sehingga terjadi pemanasan global) dengan terjadinya deforestasi dan kebakaran hutan.

Seiring waktu, negara-negara berkembang, yang pola pembangunan ekonominya telah terpatok oleh pola pembangunan ekonomi industri ala Barat, seolah ikut berpacu dengan waktu tanpa menghiraukan ekonomi yang berkeadilan sebagaimana yang telah dan terus diperjuangkan oleh banyak pakar, misalnya ekonomi berkeadilan dari Amartya Sen.

Alam Tidak Menghancurkan Diri Tetapi Merombak Kehidupan

Alam memang pada waktu-waktu tertentu bertindak dengan cara-caranya sendiri sehingga kerusakan lingkungan tidak terelakkan, seperti halnya gempa bumi, meletusnya gunung berapi, badai salju, angin topan, tornado, pola cuaca, banjir akibat curah hujan yang terlalu tinggi, tsunami, kebakaran hutan secara alami, kekeringan karena curah hujan yang terlalu sedikit, dan wabah penyakit akibat hama. Korban kemanusiaan yang terjadi akibat peristiwa alam itu adalah sisi lain yang menggambarkan makna spiritualitas ketimbang sekedar kematian.

Namun, semua bencana alam itu terjadi secara teratur atau siklis. Tuhan menciptakan konstruksi planet Bumi ini demikian. Bencana alam terjadi agar alam merombak dirinya sendiri secara terus-menerus. Misalnya, terjadinya gempa bumi menyebabkan terbukanya unsur-unsur mineral dari bawah tanah ke permukaan bumi sehingga zat-zat hara yang diperlukan makhluk hidup menjadi terbarukan.

Demikian pula dengan terjadinya aliran lahar gunung berapi menyebabkan tanah menjadi sangat subur sehingga sangat cocok dijadikan lahan pertanian. Sama halnya dengan terjadinya banjir alami yang menyebabkan tersebarnya endapan nutrien menjadi humus yang juga sangat bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan.

Ketidakpedulian Manusia Justru Menghancurkan Alam

Bagaimana dengan dampak buruk, termasuk bencana alam, yang terjadi akibat ulah manusia? Dampaknya adalah siklus alam itu menjadi terganggu. Alam menjadi terganggu dalam keteraturannya. Pada akhirnya, terjadi apa yang kenal sebagai perubahan iklim (climate change). Deforestasi yang tidak memperhatikan jeda tebang dan reboisasi menyebabkan kebakaran hutan dan banjir bandang.

Akibatnya adalah “senjata makan tuan”, manusia menjadi korban bencana akibat perbuatan manusia itu sendiri. Contohnya adalah kebakaran hutan di Sumatera yang menyebabkan polusi udara sejak tahun 2006 yang mempengaruhi negara-negara jiran seperti Malaysia dan Singapura.

Demikian pula halnya dengan efek lanjutan terhadap lingkungan di Teluk Meksiko sejak 2010, kasus lumpur Lapindo di Jawa Timur, yang sayang sekali sejak 2006 sampai sekarang belum ada penyelesaiannya, dan banjir lumpur Wasior di Papua tahun 2010 lalu yang merenggut nyawa lebih dari 150 orang.

Penerapan teknologi yang lebih mementingkan profit ketimbang ramah lingkungan juga mempengaruhi kerusakan lingkungan, bahkan organisme hidup. Misalnya, pengenalan komoditas kapas berteknologi Genetically Modified Organism (GMO) yang menimbulkan rusaknya keanekaragaman hayati dan fungsi tubuh sebagaimana terjadi di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2001 lalu.

Populasi dunia terus melonjak sejak tahun 1990-an dengan peningkatan sekitar 77 juta orang per tahun. Dengan semakin tingginya populasi dunia, maka lebih banyak lagi habitat yang dirusak dan sumber-sumber daya alam semakin terus dieksploitasi untuk kepentingan manusia sendiri. Hingga saat ini jumlah penduduk dunia telah mencapai 6,7 miliar orang.

Kebutuhan manusia semakin bertambah sementara planet Bumi ini tetap dalam ukuran yang tidak mengalami pembesaran, termasuk lingkungan. Masalah ini terutama terdapat di negara-negara berkembang dan negara-negara yang berada dalam tahap ke arah kemajuan (emerging) termasuk India dan China.

Pengaturan kelahiran yang kurang baik di negara-negara ini semakin menambah kerusakan lingkungan akibat rendahnya pendidikan sehingga hal-hal seperti permukiman kumuh, sampah-sampah yang menumpuk di sungai-sungai dan lahan-lahan, air yang tidak layak konsumsi, dan lain-lain mewarnai dampak buruk terhadap lingkungan.

Pemanasan global diakibatkan oleh efek rumah kaca. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara adalah penyebab gas-gas yang seharusnya jumlahnya di bawah standar tertentu ini malah semakin banyak memenuhi permukaan bumi. Gas-gas ini adalah karbondioksida, methana, nitro oksida, dan uap air yang apabila terjebak panas dan cahaya dari matahari di atas permukaan bumi maka akan menyebabkan naiknya suhu di bumi.

Tahun 2010 lalu tercatat sebagai tahun paling panas dalam sejarah mencapai suhu rata-rata 14,64 derajat Celcius sebagaimana dinyatakan oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO) dan Lembaga Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).

Dekade 2000-2009 kemungkinan besar merupakan dekade yang memecahkan rekor sebagai dekade paling panas, lebih panas dibanding tahun 1990-an, 1980-an, dan dekade lainnya. Ini artinya suhu rata-rata permukaan Bumi terus mengalami kenaikan. Suhu tertinggi yang tercatat pada 2010 lalu terdapat di Lembah Indus (selatan Pakistan) yang mencapai suhu 53 derajat celsius!

Pemanasan global ini juga menyebabkan naiknya permukaan laut, badai besar, mencairnya gletser (terutama di belahan bumi utara dan selatan), dan kekeringan serta banjir. Akibatnya banyak orang kehilangan rumah dan penghidupan, dan bahkan merenggut nyawa.

Upaya Internasional

Lepas dari kontroversi, kita patut bersyukur bahwa perhatian global terhadap lingkungan telah banyak dilakukan sejak abad permulaan abad ke-20 melalui serangkaian konvensi/ konferensi atau perjanjian internasional, mulai dari Konvensi tentang Perlindungan Unggas yang Berguna untuk Pertanian (Paris 1902), pembentukan United Nations Environmental Program/ UNEP pada (Swedia 1972), Protokol Montreal Mengenai Substansi yang Mengurangi Lapisan Ozon (Montreal 1987, 1990, dan 1992), Konferensi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan (KTT Bumi) pada 1992,  Program Implementasi Lanjutan Agenda 21 (yang telah diprogramkan sejak 1992 melalui konferensi di Brasil), Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCC) yang lebih dikenal dengan nama Protokol Kyoto (Kyoto 1997), Tujuan Pembangunan Milenium (melalui Deklarasi Milenium di New York pada 2000), dan KTT Iklim Cancun (Meksiko 2010) baru-baru ini.

Tentu saja, upaya-upaya internasional dalam bentuk konvensi atau perjanjian ini akan terus menjadi perhatian global baik dengan membuat kebijakan internasional maupun dengan melanjutkan kesepakatan-kesepakatan itu agar dapat diratifikasi dan diterapkan semua negara di dunia tanpa kecuali.

Upaya dari Segi Politik

Dari segi politik, muncul partai-partai yang dikenal sebagai ‘partai hijau (green parties)’. Organisasi pertama yang berhaluan partai hijau ini adalah Partai Nilai (Values Party) di Selandia Baru pada 1972. Kemudian, terbentuk Federasi Partai-Partai Hijau Eropa (yang terbentuk dari 23 partai di Eropa bagian timur dan barat) pada 1993.

Namun, sayang sekali di Indonesia belum ada satu partai politikpun yang memberi perhatian khusus terhadap isu lingkungan hidup ini. Ini menunjukkan bahwa Indonesia belum menganggap isu lingkungan ini sebagai hal yang penting. Mungkin suatu saat?

Budaya Bangsa

Di Indonesia, masih terdapat sejumlah suku yang masih setia dengan keakraban dengan alam sebagai bentuk tradisi walaupun terkait dengan pemenuhan kebutuhan. Suku-suku seperti Badui di Jawa Barat, suku Anak Dalam di Jambi, suku Korowai dan suku-suku lainnya di Papua, dan lain-lain adalah bentuk kehidupan masyarakat yang masih menghargai alam dan lingkungannya tanpa merasa terusik dengan pandangan keterbelakangan, kemiskinan, dan rendahnya pendidikan (jika secara kasar dapat disebut sebagai kebodohan).

Suku-suku itu mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam tanpa merusaknya.

Dalam hal lingkungan ini, suku-suku itu sebetulnya memang mengajarkan kita banyak hal menyangkut alam: alam telah memperlakukan kita dengan baik dengan pemberian sumber daya alam, maka sudah sepantasnya kita menghargainya dengan memperlakukannya dengan baik pula.

Upaya Masyarakat Dunia

Wujud organisasional lainnya adalah dengan hadirnya lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang beroperasi dalam bidang lingkungan secara lokal, seperti halnya WALHI, Institut Hijau Indonesia, Yayasan Yappika, Telapak, KEHATI, dan lain-lain di Indonesia, maupun secara global seperti halnya Greenpeace International, Friends of the Earth International, WWF International, dan lain-lain.

Organisasi-organisasi semacam ini memberi perhatian penuh terhadap berbagai varian terkait isu lingkungan, seperti perlindungan terhadap mamalia Paus, mencegah meluasnya penggundulan hutan, melindungi flora dan fauna yang terancam, dan lain-lain.

Selain itu kini telah bermunculan slogan ‘ramah lingkungan (go green)’ yang mencakup bioteknologi sehingga berkembanglah mobil ramah lingkungan, energi (bahan bakar) ramah lingkungan, kantong plastik ramah lingkungan, komputer ramah lingkungan, atap ramah lingkungan, dan lain-lain. Ini merupakan semangat dunia yang baik. Dunia menjadi semakin sadar akan pentingnya hemat energi dan memperlakukan lingkungan dengan baik.

Di tataran formal, telah ada legislasi mengenai pelestarian lingkungan, modernisasi kelistrikan, pajak karbon, dan lain-lain. Di dalam kehidupan sehari-hari marilah kita mencoba dan terus membuang sampah pada tempatnya, hemat energi seperti mematikan lampu ketika tidak digunakan, pemasangan fotovoltaik di rumah-rumah, menanam tumbuh-tumbuhan di pekarangan atau secara hidroponik, menggunakan produk-produk hemat energi, dan lain-lain.

Kita Layak Respek Terhadap Lingkungan

Tuhan memang adalah Sang Penentu Mutlak. Tetapi, sebagaimana yang pernah divisualisasikan dalam sinematografi mulai dari gambaran akhir dalam kisah fiksi Artificial Intelligence-nya Steven Spielberg (2001) hingga dokumentasi politis An Inconvenient Truth-nya Al Gore (2006), maka apakah yang dapat kita lakukan?

Bahwa suatu saat lingkungan atau alam sekitar di planet Bumi ini tertutupi oleh air bah dan glasier, maka kita tentu tidak bisa membiarkan segalanya terjadi begitu saja. Sebagai manusia yang memiliki akal pikiran, tidak saja insting semata, maka setidaknya ada yang sesuatu yang kita lakukan demi kelestarian lingkungan dan demi kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri, jika Tuhan menghendaki.

Berdasarkan gambaran besar yang telah diuraikan di atas, menurut Protuslanx, setiap negara (sebagai bentuk entitas tertinggi) di dunia semestinya menyadari bahwa sebagai sesama penghuni planet Bumi yang akan semakin sesak di waktu-waktu mendatang ini maka diperlukan adanya upaya bersama untuk terus menjadikan planet ini sebagai tempat tinggal yang layak.

Apakah kita bersedia tinggal di planet Mars (atau apapun alternatifnya) jika planet Bumi tercinta ini suatu saat benar-benar rusak di masa depan? Kita yang hidup di abad ke-21 ini tidak akan hidup selamanya, tetapi akan digantikan oleh anak cucu bahkan “cicit dari cicit” kita (selama Tuhan Sang Khalik memperkenankan tentunya). Yang patut kita pikirkan adalah generasi yang akan datang.

Sekedar catatan, dalam kondisi yang sangat ekstrim jika isu lingkungan ini tidak menjadi hal penting bagi dunia, maka jika kita membandingkan manakah yang lebih merusak lingkungan, apakah faktor alam sendiri ataukah karena ulah manusia sendiri?

Dari segi korban, dengan tidak mengabaikan etika dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, hingga saat ini jelas bahwa korban, baik manusia dan makhluk hidup lainnya, masih lebih banyak disebabkan oleh bencana alam (gempa bumi, tsunami, dan lain-lain) ketimbang karena tingginya efek pemanasan global, sebagai contohnya, yang masih belum seberapa. Tentu saja (tanpa bermaksud menyimpang dari konteks lingkungan) korban kemanusiaan memang lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia sendiri, misalnya Perang Dunia II.

Tetapi, dalam hal ini kita tidak bisa mengabaikan bahwa kemungkinan isu lingkungan ini bisa merenggut korban lebih banyak dari apa yang dapat kita saksikan pada saat ini. Kemungkinan ini dapat terjadi di masa yang akan datang jika kita sebagai masyarakat dunia tidak memulai pelestarian lingkungan mulai dari sekarang. Kita tidak berharap hal ini menjadi faktor preseden buruk di masa depan.

Kita memang tidak perlu menggunakan mesin waktu (walaupun pada kenyataannya tidak mungkin diciptakan) hanya untuk menyadarkan generasi sekarang mengenai pentingnya menghargai lingkungan.

Jadi, apa yang kita lakukan terhadap lingkungan adalah gambaran tentang penghargaan atau respek kita terhadap diri kita sendiri. Orang yang bertindak jorok terhadap lingkungan berarti begitulah kejorokan orang itu. Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) yang bertindak jorok terhadap lingkungan berarti begitulah kejorokan RT dan RW itu. Kecamatan dan kabupaten/ kotamadya yang jorok terhadap lingkungan berarti begitulah kejorokan kabupaten/ kotamadya itu. Provinsi yang jorok terhadap lingkungan berarti begitulah kejorokan provinsi itu. Dan, negara yang jorok terhadap lingkungan berarti begitulah kejorokan negara itu!

Alam sekitar atau lingkungan memiliki “urusan dengan dirinya sendiri” yang disebut sebagai bencana alam. Namun, kita sebagai makhluk hidup yang memiliki kelebihan daripada ciptaan lainnya, yaitu akal pikiran. Salah satu nilai yang terdapat di dalamnya adalah nilai respek. Oleh karena itu, kita tidak semestinya mengintervensi lingkungan dengan “urusan dengan dirinya sendiri” itu dengan tindakan-tindakan yang memperburuk lingkungan.

Pada gilirannya, bukanlah soal apakah yang terjadi itu bencana ekologis ataukah memang bencana alam. Nilai penghargaan manusia atas dirinya sendirilah yang menjadi inti dalam hubungan antara manusia dan lingkungan alam sekitar.

Jika kita menghargai atau respek terhadap diri sendiri maka kita tidak akan melakukan perbuatan yang menunjukkan keburukan kita sendiri. Jika setiap orang respek terhadap lingkungan maka ia respek terhadap dirinya sendiri. Jadi, marilah kita menghargai alam sekitar alias lingkungan kita sebagaimana kita juga memiliki penghargaan alias respek terhadap diri kita sendiri, begitupun sebaliknya. Respeklah diri kita sendiri, maka kita respek terhadap lingkungan. Respek diri, respek alam.

Referensi:

Microsoft Encarta 2009

http://www.csrindonesia.com

http://www.idepfoundation.org

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/cuaca-ekstrim-dan-perubahan-iklim-berapa-lama/blog/32489

http://www.walhi.or.id/id/kampanye-dan-advokasi/tematik/kelola-bencana/87-bencana-ekologis-wasior-dan-kesalahan-kebijakan-pengelolaan-alam-papua

http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/08/konspirasi-pemanasan-global.html

https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/xx.html

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

http://library.thinkquest.org/CR0215471/global_warming.htm

http://www.voanews.com/indonesian/news/environment/Ratusan-Petugas-Pemadam-Kebakaran-Dikirim-Untuk-Atasi-Kebakaran-Hutan-Sumatera-105563213.html

http://teknologi.vivanews.com/news/read/193961-tahun-2300–bumi-terlalu-panas-bagi-manusia

http://teknologi.vivanews.com/news/read/194345-manfaat-di-balik-gempa-bumi

http://en.wikipedia.org/wiki/2010_Russian_wildfires

http://www.voanews.com/english/news/environment/2010-Proved-Though-Year-for-Environment-112250074.html

http://bravenewclimate.com/2010/09/12/floods-dice-loading/

http://www.suite101.com/content/the-2010-russian-wildfires—from-sarov-to-st-petersburg-a275216

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s