Pentingnya Ketulusan dan Pemahaman Karakter


Membantu siapapun dasarnya adalah ketulusan, bukan demi egoisme pribadi. Kita sebaiknya tidak membantu siapapun demi penilaian baik atau supaya dinilai sebagai orang baik dari Tuhan dan orang lain terhadap kita. Jika kita membantu orang lain atas dasar egoisme pribadi demikian maka kita hanya menjadi orang yang munafik. Tidak ada ketulusan di dalamnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia/ KBBI (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php), kata ‘tulus’ berarti sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yg suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas: orang lain belum tentu berhati — kepada kita; ia menyumbangkan tenaga dan hartanya dengan — ikhlas;
ke·tu·lus·an v kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran.

Padanan kata ‘ketulusan’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sincerity’. Menurut Dictionary.com, ‘ketulusan’ atau ‘sincerity’ adalah freedom from deceit, hypocrisy or duplicity; probity in intention or in communicating earnestness (bebas dari ketidakjujuran, kemunafikan atau sifat bermuka dua; kebersihan hati dalam niat atau dalam menyampaikan kesungguhan hati).

Menurut Protuslanx, dalam kaitannya dengan orang lain, ketulusan juga melibatkan pemahaman akan karakter setiap orang. Karakter setiap orang tidak ada yang sama. Secara psikologis, ada yang berkarakter melankolis dengan variannya, sangunis dengan variannya, koleris dengan variannya, plegmatis dengan variannya, ada yang senang dengan hiruk pikuk, ada yang lebih nyaman dengan keheningan, ada yang lebih senang bercakap-cakap, ada yang lebih senang berbicara seperlunya, ada yang lebih suka suasana outdoor, ada yang lebih suka suasana indoor, dan lain-lain.

Karakter terbentuk secara mendasar di dalam keluarga. Misalnya, anak sulung cenderung bossy, anak tengah cenderung lebih bijaksana, anak bungsu cenderung sensitif, dan anak tunggal cenderung egois.

Protuslanx menilai kecenderungan ini memang tidak mutlak, tetapi pada dasarnya memang demikian. Seiring waktu dan pengalaman seseorang maka karakternya akan semakin terbentuk dari berbagai kombinasi sifat-sifat yang dominan dalam dirinya.

Bentukan karakter seseorang ketika dewasa juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman seseorang semasa kecil. Kemudian bentukan karakter itu semakin “ditempa” oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya semasa remaja dan transisi menuju kedewasaan.

Nah, karena perbedaan karakter itulah semestinya setiap orang saling memahami satu sama lain. Ukuran yang kita pakai untuk menilai orang lain berdasarkan penilaian atas karakter kita sendiri sepatutnya tidaklah benar. Kita tidak bisa menuntut orang lain harus seperti yang kita inginkan. Kalau itu dipaksakan, maka yang terjadi adalah konflik.

Pemahaman Protuslanx adalah biarkan setiap orang menjadi dirinya sendiri. Inilah yang semestinya dilakukan ketika kita berhadapan dengan orang lain. Termasuk ketika kita membantu siapapun. Tentu saja dalam hal yang melewati batas kewajaran, ketika dirinya sendiri dan orang lain dirugikan, di situlah kita berperan.

Ketika dasarnya adalah kewajiban dan kemunafikan (supaya mendapat penilaian baik dari orang lain) yang terjadi adalah rasa beban pada diri si orang yang berniat membantu. Lama kelamaan, iblis pun akan merasuk kepada diri si orang yang berniat membantu itu. Akhirnya, konflik pun terjadi. Inilah akibatnya jika niat membantu siapapun tidak didasari oleh niat yang tulus!

Kalau demikian halnya, kita lebih baik tidak berniat membantu pada awalnya ketimbang pada proses dan akhirnya hanya akan menimbulkan konflik dan kemunafikan! Jika tidak ada ketulusan dalam hati, maka lebih baik tidak usah berniat membantu siapapun. Kemunafikan, merasa terbebani dan kepura-puraan hanya akan memperburuk hubungan antara yang membantu dengan yang dibantu.

Jadi, kita harus siap bahwa ketika membantu siapapun maka kita juga harus siap dengan karakternya. Di sinilah ketulusan diuji. Betapapun buruknya karakter seseorang yang kita bantu, namun karena dasarnya adalah ketulusan maka bantuan itu tetap dilakukan. Ketulusan itu dilakukan tanpa batas waktu dan tanpa pamrih.

Ketika kita berniat membantu siapapun kita harus mengingat bahwa ketulusanlah yang penting. Ketulusan itu harus kita lakukan sekalipun karakternya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ketulusan bahwa kita memang mengasihi orang tersebut. Ketulusan bahwa kita peduli terhadap orang tersebut.

Ketulusan bukan karena kewajiban (misalnya karena suruhan orangtua) dan bukan karena supaya kita dinilai baik oleh orang lain (alias munafik!). Ketulusan datang dari dalam hati nurani.

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s