Lebih Baik Marah Daripada Putus Asa


“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.’ Pengkhotbah 3:11

 

Tidak semua orang mempunyai mentalitas yang sama. Ada yang mentalitasnya kuat, namun ada juga yang mentalitasnya lemah. Mereka yang bermentalitas kuat jelas punya kadar kesabaran yang baik untuk menghadapi persoalan-persoalan kehidupan. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang bermentalitas lemah? Ketidakteguhan mental bisa menjadikan mereka larut dalam dukacita yang merundung, sehingga bisa berakibat fatal pada kondisi yang sangat ekstrim. Jika tidak ada kesadaran diri dan semangat dari orang lain, mereka yang berada dalam masalah kehidupan dengan mentalitas yang lemah itu bahkan bisa berujung hilangnya nyawa atau sebaliknya bisa bertahan.

‘Marah’ dan ‘putus asa’ adalah tanda bahwa seseorang memiliki tingkat mentalitas yang lemah. ‘Marah’ dan ‘putus asa’ adalah dua kondisi yang berseberangan yang dapat dialami siapapun dalam keadaan dilanda stress atau atau depresi. Namun, efek keduanya bisa berbeda. Efek keduanya bisa salah satu berubah menjadi positif dan yang salah satunya bisa berubah menjadi negatif ekstrim. Entah itu karena masalah pekerjaan, masalah keluarga, masalah keterikatan dengan penyalahgunaan narkoba, masalah dengan orang-orang yang lebih suka menyebarkan gosip, fitnah, dan semua hal jelek tentang orang lain, masalah kepercayaan diri, dan lain-lain.

Menurut Protuslanx, ‘marah’ dan ‘putus asa’ berada pada satu garis kondisi mentalitas yang lemah. Keduanya berada pada masing-masing ujung spektrum mentalitas yang lemah. Di ujung spektrum yang satu adalah ‘putus asa’, dan di ujung spektrum yang lain adalah ‘marah’. Walaupun berada pada satu spektrum, akibatnya bisa berlainan. Marah justru bisa lebih positif ketimbang putus asa.

Bedanya? Marah menjadikan manusia tetap sadar bahwa perlu ada koreksi atau introspeksi mengenai dirinya sendiri. Apapun yang dituduhkan kepadanya secara tidak beralasan akan membangkitkan perlawanan diri. Semakin ditekan, semakin melawan. Rasa marah mengingatkan kesadaran mereka yang bermentalitas lemah. Ibaratnya bola plastik yang ditekan ke dalam kolam, semakin ditekan, semakin kuat tekanan bola itu ke atas. Jadi, ‘marah’ sebenarnya “alarm” kesadaran diri agar tetap hidup. Agar tetap semangat menjalani hidup bahwa hidup itu harus diperjuangkan bukan dibiarkan sampai sejauh mana faktor eksternal kehidupan mempermainkan diri kita sendiri.

Sebaliknya, kalau ‘putus asa’ justru akan semakin menenggelamkan si penderita. Ibarat bola plastik yang bocor, semakin ditekan ke dalam kolam, benda itu akan semakin tenggelam, dan kalaupun bisa mengapung benda itu tetap saja masih di bawah permukaan air. Begitulah ‘putus asa’. Kondisi mental yang lemah demikian tidak akan menyisakan semangat. Sementara, semangat satu-satunya adalah muncul dari kesadaran diri dan kepedulian dalam bentuk kata-kata atau tindakan dari orang lain, teman, dan keluarga. Kalau semangat itu tidak ada lagi, maka niscaya ‘putus asa’ akan berujung maut pada kondisi yang sangat ekstrim.

Tentu saja dalam hal ini Protuslanx tidak menganjurkan supaya kita marah-marah. Marah berbeda dengan marah-marah! Marah adalah reaksi kimiawi dalam diri manusia supaya bertahan hidup, sedangkan marah-marah menunjukkan tidak adanya pengendalian diri melawan penderitaan atau masalah kehidupan.

Rasa ‘marah’-lah yang membuat Nelson Mandela, Abraham Lincoln, Hellen Keller, Cristiano Ronaldo, Martin Luther King, dan lain-lain menjadi manusia-manusia inspirator dunia ini. Mereka melakukan gebrakan dalam hidup mereka karena ‘marah’ membuat mereka ingin membuktikan bahwa peremehan yang dituduhkan kepada mereka tidaklah benar! Mereka ingin menunjukkan kebenaran, bukti bahwa mereka mampu menjadi lebih baik, keadilan, kebaikan, dan lain-lain. Sedangkan ‘putus asa’ adalah bukti dari orang-orang yang muncul dalam halaman-halaman surat kabar, majalah, ataupun radio dan televisi serta internet dalam rubrik berita kriminalitas. Orang-orang yang ditunjukkan dalam kondisi ekstrim ‘putus asa’ ini seringkali dipublikasikan dengan kata-kata: ‘penjara’, ‘rumah sakit jiwa’, dan ‘bunuh diri’, serta tentu saja ‘tewas’.

Jadi, ‘marah’ lebih baik daripada ‘putus asa’. Untuk saudara-saudari di luar sana yang dirundung masalah, apapun itu, Protuslanx ingin memberi semangat bahwa janganlah kita ‘putus asa’. Lebih baik ‘marah’. ‘Marah’-lah tetapi jangan ‘marah-marah’! Hidup ini terlalu berarti untu diakhiri begitu saja. Protuslanx membuat tulisan ini karena prihatin dengan berita-berita (terutama di Bandung) yang menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mengalami stress atau depresi karena masalah-masalah kehidupan.

Ayolah saudara-saudariku! Jadikanlah hati kita (bukan liver!) seluas telaga yang seberapapun garam dicampurkan ke dalamnya tidak akan menjadi asin, sebagaimana sebuah kebijaksanaan berkata demikian. Masalah kehidupan tidak akan pernah ada habisnya. Berjuanglah dan semangatlah untuk bertahan hidup. Lagipula pasti ada segala sesuatu yang indah di balik rencana-rencana-Nya. Itulah misteri Sang Khalik. Segala sesuatu pasti indah pada waktunya.

Posted by Wordmobi (N73 Music Edition)

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s