Indo”korupsi”nesia


Seminar Nasional Anti-Korupsi MIS UNPAR 20 November 2010 (Courtesy Aloysius Kevin Prasetyo)

Hal sulit untuk mulai membuat tulisan kembali adalah karena kondisi kesehatan yang belum pulih. Pikiran jadi ngelantur, malah mudah lupa untuk menuliskan apa yang ada di dalam pikiran. Baru saja terpikir, gak taunya langsung bubar semua yang ada dalam kepala. Susah kalau begini terus…

Hmm…akhirnya Protuslanx bisa nge-wordpress lagi. Bukan karena sudah sembuh, tetapi karena UAS semester 1 akhirnya beres! O Lord I’m take thought for my examination results! Waktunya posting!

Korupsi, Topik No. 1 di Indonesia dan di Seluruh Dunia
Mungkin sedikit kelihatan basi, tapi menurut Protuslanx ini masih layak menjadi catatan karna korupsi masih menjadi topik isu nomor 1 di negeri tercinta Republik Indonesia ini. Mumpung masih bulan Desember 2010…

Menurut survei BBC pada awal Desember 2010 lalu, angka perhatian untuk tema korupsi di indonesia lebih tinggi 21% dari angka rata-rata internasional. Di dalam negeri, selama 1 bulan terakhir 45% atau hampir separuh masyarakat Indonesia menjadikan isu korupsi sebagai topik pembicaraan nomor 1 dalam kehidupan sehari-hari. Bandingkan dengan topik kenaikan harga pangan dan masalah energi yang hanya diperhatikan 34% masyarakat Indonesia. Namun, masih menurut survei BBC, pada skala internasional, 85% responden Indonesia menganggap topik yang terpenting adalah masalah pangan dan energi , urutan kedua adalah korupsi (81%), dan urutan ketiga kemiskinan ekstrim adalah (78%).

Lalu, bagaimana dengan tanggapan seluruh planet Bumi ini? Ternyata hasilnya sama! Dari sekian ranah isu yang disurvei BBC, isu korupsi dan keserakahan menjadi topik pembicaraan nomor 1 di dunia (21%) mengalahkan isu perubahan iklim (20%) di tempat kedua, kemiskinan ekstrim dan kelaparan (18%) di tempat ketiga, pengangguran (16%) di tempat keempat, dan isu kenaikan harga pangan dan energi di tempat kelima alias terakhir. Selain negara kita, Filipina, Brasil, Kolombia, Italia, Mesir, dan Kenya adalah negara-negara yang menganggap isu korupsi sebagai masalah terpenting. What a crazy world we live on!

Ya, percaya tidak percaya ya harus percaya soalnya BBC kan profesional, beda dengan hasil survei di Indonesia ya…percaya tidak percaya ya…jangan ambil pusing! (survei kemenangan suara 60%, survei pemilihan gubernur Yogyakarta di atas 50%, survei angka kemiskinan, survei angka pengangguran, survei  atas survei, surveian survei, survei surveian ya…begitulah…Tanya: kenapa? Jawab: korupsi survei alias survei juga dikorupsi!).

Hukum Mati Koruptor!

Seminar Nasional Anti-Korupsi MIS-UNPAR 20 November 2010 (Courtesy Aloysius Kevin Prasetyo)

Pada 20 November 2010 lalu, Magister Ilmu Sosial (MIS) Pascasarjana UNPAR (ketua prodi incumbent-nya sekarang Sukawarsini Djelantik, Ph.D.) mengadakan Seminar Nasional Anti-Korupsi. Temanya waktu itu adalah “Format Hukuman yang Efektif Bagi Koruptor : Hukuman Mati?” (kalau diakhiri tanda seru, wah…). Yang diundang sebagai narasumber adalah: Bibit Samad Rianto (wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi), Budi Prastowo (dosen Fakultas Hukum UNPAR), J. Danang Widoyoko (Indonesia Corruption Watch), Wahyu Dhyatmika (redaktur Majalah Tempo), Erry Riyana Hardjapamekas (Transparansi Internasional Indonesia), dan Asep Warlan Yusuf (dosen Fakultas Hukum UNPAR).

Menurut Pak Rianto, saking banyaknya korupsi di Indonesia hampir sama dengan ibarat “ikan di Danau Semayang (Kalimantan Timur). Karena ikan di tempat itu sangat banyak, hanya dengan mencelupkan tangan ke dalam danau tersebut kita bisa menangkap seekor ikan! Begitulah korupsi yang terjadi di Indonesia! What’s going on?!

Dari aspek tindak pidana hukum, Indonesia sebenarnya melegalkan hukuman mati melalui Pasal 10 Huruf a Pidana Pokok Angka 1 Pidana Mati, Pasal 11 KUHP, Pasal 104, 110, 111 (2), 340 KUHP, UU Terorisme, UU Korupsi, UU Pengadilan HAM, Pasal 2(2) UU Tipikor No. 31/1999, dan Penjelasan Pasal 2 (2) tentang “keadaan tertentu”. Dari hasil kesimpulan presentasi para beliau, Protuslanx merangkumnya sebagai berikut:

  1. Bibit S. Rianto: Pencegahan dan penangkalan korupsi lebih penting ketimbang hukuman mati sekalipun. Hukuman mati hanya menjadi efek jera namun dengan fenomena seperti tempat pembuangan sampah.
  2. Budi Prastowo: Secara pribadi menolak hukuman mati. Yang terpenting adalah probabilitas sanksi bagi pelaku tipikor. Semakin tinggi probabilitasnya, maka semakin baik pemberantasan korupsinya.
  3. Danang Widoyoko: Peran civil society (mahasiswa, media, LSM, dll) lebih penting ketimbang penegakan hukum (termasuk hukuman mati).
  4. Wahyu Dhyatmika: Ketimbang hukuman mati, hukuman yang lebih efektif adalah 1) kerja sosial yang mempermalukan terpidana di hadapan publik (membersihkan septic tank, menyapu jalan protokol, dll), 2) pemiskinan terhadap pelaku tipikor, 3) perubahan sistem birokrasi dan pemberian insentif bagi pelayan publik yang jujur dan berintegritas, dan 4) penguatan dukungan publik dan media sosial.
  5. Erry R. Hardjapamekas: Mendukung hukuman mati sesuai undang-undang, namun perlu kehati-hatian ekstra dari aparat penegak hukum.
  6. Asep W. Yusuf: Tidak mendukung hukuman mati. Alternatifnya adalah 1) pembalikan beban pembuktian terhadap asal harta, 2) perluasan tanggung jawab pidana yang menyertakan setiap orang yang turut menikmati hasil korupsi (keluarga, teman, dll), 3) pemiskinan dengan penyitaan harta kekayaan koruptor secara keseluruhan, 4) penerapan hukuman minimal 10 tahun penjara, 5) penghapusan diperbolehkannya grasi, remisi dan semacamnya, 6) pengucilan dari kehidupan sosial yang normal, dan 7) perlindungan hukum bagi “peniup pluit” tipikor.

Harapan Protuslanx dan Harapan Kita Semua

Yah, semoga saja generasi muda sekarang yang akan menggantikan generasi praktisi sekarang ini  tidak ikut melanjutkan “prestasi korupsi” Indonesia. That’s enough! Waktunya era baru profesionalitas! Apa yang bisa kita lakukan? Saran Protuslanx: mulailah segala sesuatu dari diri sendiri. Intropeksi selalu menambah kedewasaan berpikir dan bertindak. Selalulah jujur pada diri sendiri, orangtua, dan terhadap orang lain. Jika kita aktif berorganisasi, janganlah mengkorupsi waktu dan dana. Janganlah membuat saldo terakhir laporan keuangan kepanitiaan menjadi nol/ zero/ kosong/ null (0) !!! Karena berapapun jumlahnya, walau tersisa plus 50 perak (misalnya) ataupun malah minus 50 triliun (misalnya!) tetap harus tercantum/ tertulis/ tersurat apa adanya! Setuju?!

Semoga bermanfaat.

“Baik itu hanyalah Perspektif, tetapi Benar itu absolut Benar. Jadi, lakukanlah yang Benar, jangan yang baik!” Protuslanx

Sumber:
http://www.bbc.co.uk/indonesia/mobile/berita_indonesia/2010/12/101209_survei_korupsi.shtml

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s