Indonesia Harus Belajar “Middle & Great Minds”


Protuslanx akhir-akhir ini sering berpikir apakah banyak orang sekarang hanya sekedar menjalani hidup begitu saja tanpa mengingat bahwa suatu saat kehidupan akan berakhir sehingga apa yang kita perbuat selama menghuni planet Bumi ini akan dipertanggungjawabkan di dunia akhirat. Sehingga orang-orang menjadi lebih senang memasukkan apa saja ke dalam kepalanya tanpa memilah-milah apakah hal itu penting atau benar.

Tetapi, satu hal yang sangat mengganggu pikiran Protuslanx mengenai pemberitaan media adalah semakin tidak ada batas antara manakah isu yang layak diangkat ke publik dan manakah isu yang tidak layak diangkat ke publik. Sejak era pemerintahan Soeharto berakhir, yang kemudian di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) “keran” kebebasan pers dijamin sepenuhnya, kebebasan pemberitaan itu semakin menjadi-jadi.

Lihat saja beberapa pilihan berita yang menyuguhkan tentang seorang perempuan yang rela melakukan apa saja termasuk “melayani” sang presiden asalkan pemindahan residu nuklir tidak dilakukan. Protuslanx menganggap bahwa berita seperti ini memang pada dasarnya adalah mengangkat fakta yang tidak diketahui publik namun menarik untuk diangkat sebagai berita. Namun, Protuslanx tidak setuju jika berita seperti itu dipublikasikan karena tidak bermakna positif sama sekali. Berita-berita yang memuat unsur vulgar dan kebejatan moral seperti itu seharusnya tidak perlu diketahui publik.

Ada lagi berita tentang menyebarnya foto tanpa busana Miss World 2010. Berita seperti ini sebenarnya memang fakta juga, namun pada hakikatnya tidak terlalu penting serta tidak bermanfaat sama sekali. Bagi sejumlah orang, berita-berita seperti dianggap menarik sebagai hiburan semata. Namun, menurut Protuslanx, hal ini juga sama dengan contoh di atas, berita tentang keburukan orang lain tidak semestinya dimuat di harian umum baik dalam format media cetak maupun elektronik.

Ketika kasus video porno Ariel, Luna, dan Cut Tari mencuat di masyarakat beberapa waktu yang lalu, orang-orang Indonesia malah semangat untuk terus mengikuti bahkan menonton video tersebut. Orang-orang larut dalam suasana betapa asyiknya mengetahui sesuatu yang menimpa orang lain karena kekeliruannya sendiri. Memprihatinkan…

Media memang memiliki “power” yang luar biasa pada jaman sekarang. Namun, jangan sampai pemberitaan-pemberitaan yang terlalu mengekspos ranah privat menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita. Apa sebabnya? Karena generasi yang sekarang dengan keadaannya baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi dan membentuk perilaku dan pola pikir generasi muda yang akan datang. Paradigma yang sangat sulit untuk diubah ketika orang-orang sudah menganggap bahwa membicarakan kejelekan orang lain itu wajar saja. Akhirnya orang-orang menjadi tidak peduli apakah itu perlu atau tidak, atau tanpa peduli apakah itu benar atau tidak.

Menurut Protuslanx, media-media harus tetap konsentrasi pada bidang yang ia geluti. Misalnya saja, jika media itu adalah surat kabar nasional maka ia tidak perlu menyajikan pemberitaan yang berbau kriminalitas. Biarkan kasus-kasus kriminalitas yang terlalu vulgar menjadi segmen khusus bagi surat kabar yang lain.

Orang-orang Indonesia juga harus bisa bijaksana, jangan terlalu banyak membicarakan orang lain (kecuali hal-hal yang baik) karena ini akan menjadikan kita menjadi masyarakat yang berpikir sempit (short minds). Satu tingkat yang lebih baik dari itu adalah membicarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga orang-orang menjadi lebih paham apa yang sebenarnya terjadi sehingga rasa simpati menjadi muncul. Dalam ilmu psikologi, pola pikir yang naik satu tingkat ini disebut sebagai “middle minds”. Dan, tingkat tertinggi yang mungkin membutuhkan penyesuaian yang lebih lama lagi untuk dapat menjadi karakteristik orang-orang Indonesia (yang lebih suka mengobrol ketimbang membaca media yang bermanfaat) adalah “great minds”.

Ini semua adalah tugas kita. Tugas generasi kita sekarang adalah untuk membentuk pola pikir yang positif konstruktif (jangan larut dalam ketidakbenaran dan ketidakpentingan). Kalangan trias politika (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) harus menjadi teladan (jangan seperti Marzuki Alie sang Ketua DPR RI yang berpikir sempit ketika mengatakan orang-orang Mentawai lebih baik keluar saja dari tanah kelahirannya itu kalau ingin tidak terkena bencana). Media massa (televisi, situs web, radio, surat kabar, aplikasi elektronik, dll) harus bisa mendidik orang-orang Indonesia untuk berpikir satu tahap lebih maju ketimbang terbuai dengan hal-hal yang berbau gosip, serba-instan, dan materialistik.

Keputusan itu ada di tangan kita semua. Apa yang kita bentuk sekarang dalam diri kita, dalam kata-kata, dalam perbuatan, dalam pola pikir pasti akan mempengaruhi pembentukan diri, kata-kata, perbuatan, dan pola pikir generasi yang akan datang (termasuk anak-anak, cucu, hingga cicit kita).

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s