Indonesia : Akumulasi Kebiasaan Buruk dari Masa Lalu


Meminjam frase untuk mengklarifikasi tentang kemiskinan dari perspektif studi Ekonomi Politik Internasional, kira-kira apa yang kita jalani dalam bentuk sebuah negara bernama Indonesia ini (secara aspek reduksional tanpa menganut paham “segalanya  membutuhkan proses”) adalah sebuah efek adanya hubungan internasional (relations) ataukah karena kepantasan sebagaimana para kaum Modernis Eropa menyebutnya: blaming the victim?

Dulu, pada tahun 1970-an, ketika era pemerintahan Presiden Soeharto, BIMMAS (Bimbingan Massal) yang justru ingin mengangkat problematika ekonomi dengan memberikan insentif sejumlah uang bagi rakyat, faktanya, uang yang diterima itu bukan digunakan untuk modal berdagang, atau mengembangkan ekonominya. Uang-uang itu nyatanya digunakan untuk konsumsi! Ada yang membeli jam tangan, rokok untuk keperluan sehari-hari, bermain judi, modal untuk menonton sepakbola, dll. Jadi?…

Lalu, Protuslanx menggambarkan tentang adanya Revolusi Hijau pada tahun 1970-an di Indonesia. Targetnya waktu itu ingin mengangkat kemandirian dan modernisasi petani. Faktanya, karena lebih banyak bersifat wacana tanpa ada pengertian bagaimana petani di desa-desa dapat mengerti istilah-istilah pertanian dan lain-lainnya, yang terjadi malah hanya kelompok para petani yang mampu secara finansial yang berhasil melakukannya. Mereka yang kekurangan modal menjadi tersingkir dan pada akhirnya tanah-tanah mereka dijual!.. Jadi?…

Ketika budaya di negeri kita membiasakan civic virtue yang selalu mengharapkan dan memberi peluang untuk “salam tempel”, mulai dari kepala suku sampai tingkat trias politika, sampai-sampai ada istilah ABS (asal bapak senang) yang sebenarnya masih terus berlaku sampai sekarang (malahan semakin parah). Jadi?…

Ketika dari era Soekarno hingga era Reformasi banyak pinjaman luar negeri dari IMF dan Bank Dunia banyak dianggap sebagai akumulasi ketergantungan Indonesia bagi pembangunan ekonomi terhadap luar negeri. Yang menjadi penyalahan adalah bahwa pihak luar lah yang berusaha untuk merusak tatanan ekonomi Indonesia. Padahal pada kenyataannya, manajemen sumber daya manusia dan manajemen dana pinjaman secara fungsional lah yang sebetulnya menjadi kunci penyalahan itu!

Sekedar perbandingan, China, Korea Selatan, dan Jepang sangat antusias meminjam dana dari Bank Dunia dan IMF, namun negara-negara itu berhasil membangun ekonominya dengan caranya masing-masing. Hingga kini mereka berhasil memadukan kapitalisme dan kultur ekonomi dan politik mereka (China dengan komunismenya yang masih kental, Korea Selatan yang masih kental dengan kultur “juche” nya, dan Jepang dengan kultur kapital yang masih memasukkan budaya Jepang). Jadi?…bagaimana dengan Indonesia?

Protuslanx mengilustrasikan perilaku keindonesiaan kita ini ibarat orang yang memutuskan untuk membeli sebuah motor secara kredit. Seharusnya (secara literal) orang tersebut seharusnya mampu mengerti syarat-syarat kredit, berapa pembayaran setiap bulannya, bagaimana konsekuensinya jika tidak tepat waktu pembayarannya (apakah motor akan disita ataukah tv di rumahnya juga akan disita), dan lain-lain.

Nah, begitu tiba setelah 6 bulan orang yang melakukan pembelian secara kredit itu tidak mampu membayar, maka si debt collector akan datang untuk melakukan penagihan dan akan bertindak tegas sesuai SOP (Standar Operation Procedure) perusahaan bersangkutan.

Itulah yang terjadi dengan Indonesia! Kita terlalu banyak menyalahkan orang lain (baca: IMF, Bank Dunia, negara-negara kapitalis) padahal kita sendiri sudah tahu konsekuensinya jika berurusan dengan segala sesuatu.

Hanya negara konyollah yang menandatangani MoU (Momerandum of Understanding), termasuk AFTA, tanpa mengerti dan tidak siap dengan konsekuensi kesepakatan apapun itu di masa yang akan datang. Sebelum menandatangani sesuatu, seharusnya pemerintah Indonesia yang seharusnya bijak selama inilah yang harus mengerti tentang kesepakatan.

Lebih parahnya lagi, di level akar rumput (baca: masyarakat) malah menyukai hal-hal yang serba dan instan dan tidak efektif jangka panjang. Ketika uang dibagi-bagikan dengan berbagai versi dalam pemerintahan (yang terbaru disebut BLT = Bantuan Langsung Tunai), masyarakat justru semakin antusias dengan budaya yang terlalu mengandalkan kepentingan sesaat: uang!

Apalagi pada saat pemilihan umum, justru masyarakat kita banyak yang semakin tidak peduli akan harga dirinya sendiri. Bagi mereka, uang yang tidak begitu besar nilainya lebih penting ketimbang kejujuran, kehormatan, keteladanan, dan kebenaran!

Pendidikan yang rendah dan penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah semakin bergayung sambut dengan senyum iblis dari para politisi yang ingin mempertahankan atau semakin memperluas kekuasannya melalui partai-partai politik!

Menurut Protuslanx, masyarakat dan pemerintah kita sama-sama menjadi faktor determinan hancurnya citra Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini! Masyarakat tidak peduli dengan harga dirinya dan para politisi hanya peduli dengan seberapa banyak yang dapat diraihnya!

Jadi, jika masih ada demonstrasi yang selalu menyalahkan pihak asing negeri ini merupakan suatu kekonyolan, menurut Protuslanx. Kita memang tidak pernah membaca atau setidaknya melihat perjanjian di tingkat G to G mengenai kesepakatan-kesepakatan ekonomi, politik, dan militer antara Indonesia dengan pihak-pihak internasional.

Oleh karena itu, dengan mengingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat (yang katanya 6%), besarnya PDB sampai-sampai selalu dianggap rekor oleh pemerintahan incumbent (Indonesia selalu masuk dalam daftar 20 besar di dunia), iklim investasi yang kuat, konsumsi pemerintah dan masyarakat yang sangat kuat sampai-sampai dianggap sebagai aspek yang mempertahankan kestabilan ekonomi Indonesia, maka apakah yang terjadi sebenarnya?

Apakah kebijakan dan manajemen keuangan di negeri ini (Bank Indonesia, eksekutif dalam ranah Departemen Keuangan) tidak mampu mengalokasikan dana secara tepat? Uang yang diperoleh di negeri ini memang banyak, tetapi dikemanakan semua uang-uang itu?

Apakah kita masih mau menyalahkan pihak asing? Dengan melihat watak masyarakat Indonesia yang tidak punya penghargaan diri sendiri seperti Protuslanx kemukakan di atas, apakah masih pantas ada asumsi di negeri tercinta ini bahwa bukan kita yang salah?

Sebuah kapal, selama ia terus mengarungi lautan, akan selalu berhadapan dengan ombak yang besar atau badai, cuaca buruk, tetapi bukan berarti begitu kapal itu berhadapan dengan tantangan selama pelayaran, maka kaptennya akan berkata: “yang salah adalah ombaknya, terlalu besar”, atau “yang salah adalah cuacanya, terlalu ekstrim”. Ini adalah sebuah kekonyolan!

Kenyataannya semua keputusan bermula dan berakhir pada pihak yang mengambil keputusan, bukan yang menawarkan alternatif!

Clean government, strong leadership, good governance, good political will, dan law enforcement, di manakah semua itu di negeri tercinta Indonesia Raya ini?

Informal form: “introspeksi dong!”

Semoga bermanfaat!

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Indonesia : Akumulasi Kebiasaan Buruk dari Masa Lalu

  1. leman berkata:

    saya sebenarnya tertarik dengan kalimat yang paling akhir yaitu “good governance” yang menjadi sebuah isu kontemporer dalam studi HI, sebetulnya “good governance” juga dapat diimplikasikan menjadi “effective government”….

    nah ini mungkin akan menjadi pertayaan menarik bahwa sejauh manakah “good governance” itu tercapai di Indonesia?

  2. Ping balik: maksa posting « Yella Ojrak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s