Empati Kita atas Banjir Lumpur Wasior 4 Oktober 2010


Protuslanx sebenarnya sangat terkejut dengan berita-berita di televisi yang muncul belakangan ini. Mulai dari kalangan Ahmadiyah yang selalu diserang (bukannya dengan cara layaknya manusia yang beradab), kecelakaan kereta di Pemalang (Jawa Tengah), tragedi HKBP, para perampok yang sangat aksi-aksinya “mendekati adegan-adegan sebuah film action“, dan lain-lainnya sangatlah tidak bisa dipercaya. Dan sekarang, terjadi bencana yang menimpa Wasior di Papua Barat.

Penyebab terjadinya kerusakan hutan di Papua adalah karena terlalu banyak operasi sektor pertambangan (yang sebenarnya banyak dilakukan oleh pemodal asing) dan banyaknya pembalakan liar.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), kerusakan hutan inilah yang menjadi pemicu terjadinya banjir lumpur pada 4 Oktober 2010 lalu. Sumbernya terutama di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Efek domino dari beralih fungsinya sejumlah 30-40 persen hutan di kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih mengakibatkan Kali Angris dan Kali Kiot meluap dan membawa bencana bagi Wasior.

Menurut Manajer Desk Bencana Eksekutif Walhi, Irhash Ahmady, perusahaan yang merupakan pemegang usaha kayu terbesar di Papua adalah PT WMT yang mengoperasikan 178 ribu hektar area di Teluk Wondama, Kabupaten Sarni dan Kabupaten Yapen Waropen.

Kompas.com memuat pernyataan Walhi mengenai penyebab banjir lumpur ini sebagai berikut:

“Penilaian ini bukannya tidak berdasar, Walhi mendapati ratusan gelondongan kayu disertai lumpur dan batu besar bertebaran di seluruh Wasior I, Wasior II, Kampung Rado, Kampung Moru, Kampung Maniwak, Kampung Manggurai, Kampung Wondamawi, dan Kampung Wondiboi. Ini menambah fakta bahwa memang kerusakan hutan di wilayah hulu menjadi penyebab utamanya,”.

Sejak tahun 1990-an, pembalakan hutan di Papua sudah terjadi. Hingga lima tahun terakhir ini jumlah area yang sudah dibuat menjadi “tandus dengan sukses” ukurannya berkisar 1 juta hektar (250.000 hektar per tahun) sebagaimana dinyatakan oleh Ketua Institut Hijau Indonesia (IHI) Chalid Muhammad.

Maka, pada 4 Oktober lalu terjadilah bencana banjir lumpur di Wasior (Kabupaten Teluk Wondama) setinggi 2 – 3 meter yang menewaskan kurang lebih 158 orang, lebih dari 800 orang luka-luka, 145 orang dinyatakan hilang, dan sekitar 4000 orang mengungsi ke lokasi lain seperti Nabire dan Manokwari (update 18 Oktober 2010).

Kini, yang dibutuhkan warga Wasior adalah perhatian dari pemerintah, pelayanan kesehatan, evakuasi korban tertimbun longsor, keperluan-keperluan lain untuk mengevakuasi jenazah, air minum, selimut, sepatu boot, gergaji mesin, serta kendaraan roda dua dan empat untuk mengangkut logistik.

Sudah selayaknya kita membantu mereka yang saat ini tertimpa bencana di Wasior dalam bentuk apapun yang kita bisa. Bukan soal jumlah yang mampu kita berikan, tapi soal keikhlasan kita atas rasa empati untuk membantu saudara-saudara kita sebagai orang Indonesia.

Kritik Protuslanx, inilah bukti empiris dari industrialisasi. Kalau negeri ini hanya berusaha untuk mencapai indeks statistika pertumbuhan ekonomi melalui PDB (bruto, bukannya netto), dan tingkat FDI (foreign direct investment), maka “korban-korban abadinya” akan terus berlangsung di negeri ini: 1. Rakyat Indonesia (yang terus ditipu untuk diambil kekayaan dan warisan daerahnya bahkan hingga nyawanya), dan 2. Lingkungan (untuk terus dieksploitasi karena ia adalah benda mati, lingkungan kan benda mati ya…jadi ia tidak mungkin berontak kalau tidak setuju dirusak).

Khusus untuk lingkungan, Protuslanx sebenarnya setuju-setuju saja dengan eksploitasi kekayaan alam, hanya saja harus dengan cara yang bertanggung jawab alias ada rehabilitasi hutan (penanaman kembali), pembatasan sekian persen lahan yang boleh ditebang dalam setahun, pengawasan secara ketat operasi perusahaan-perusahaan itu di hutan ketika mengambil kayu apakah sesuai dengan yang mereka laporkan, dll.

Pendekatan green economy mungkin sangat perlu diterapkan pemerintah di dalam undang-undang yang terkait seperti UU Kehutanan, UU PMA, dll. Kalau pemerintah tegas, unsur penegakan hukum seharusnya mendominasi setiap transaksi investasi.

Ini sangat penting, karena walaupun investasi diperlukan negara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi namun ‘ada harga yang harus dibayar oleh korban-korban abadi’ seperti Protuslanx sebutkan di atas. Investasi memang program jangka panjang, namun keuntungannya hanyalah keuntungan jangka pendek!

Semoga ada hal baik datang dari bencana Wasior. Memang segala sesuatu memang ada masanya, segala sesuatu memang ada waktunya. Namun, kita harus tetap menyadari bahwa hidup di Bumi bukan berarti hidup seenak kita sendiri. Ada hal-hal yang memang terjadi karena Tuhan Yang Maha Esa membuat planet hunian kita ini memang seperti itu, namun ada hal-hal yang terjadi karena memang kita sendirilah yang menjadi penyebab kesalahan itu.

Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kita harus saling merasakan hal itu. (Ibu Teresa)

 

Referensi:

http://www.kompas.com

http://www.koranbaru.com

http://www.tempointeraktif.com

 

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s