Tiga Gelombang Demokrasi


Versi PDF: Tiga Gelombang Demokrasi

Demokrasi modern ditandai dengan adanya perubahan pada bidang politik (perubahan dalam hubungan kekuasaan) dan bidang ekonomi (perubahan hubungan dalam perdagangan). Ciri-ciri utama dalam perubahan ini ditandai dengan:

  1. Penekanan kembali pada hak-hak individu, terutama dalam hal kebebasan berekspresi dan pemilihan umum yang adil.
  2. Pasar bebas yang menekankan pada persaingan, penegakan hukum, dan aliran informasi secara bebas.
  3. Munculnya masyarakat sipil (civil society) sebagai kelompok-kelompok yang bergerak dalam bidang-bidang tertentu namun bebas dari pemerintah atau sifatnya otonom.

Para filsuf Eropa menyebut istilah ‘akhir sejarah’ bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

Akhir abad ke-19 memperlihatkan revolusi rangkap dalam bidang politik dan ekonomi seperti disebutkan di atas. Dalam bidang politik, ini ditandai dengan munculnya ide tentang liberalisme bagi pemerintahan rakyat dan pasar sebagai pengendali ekonomi. Liberalisme ini mengakar di Eropa dan Amerika, kemudian dipicu pula oleh kekuatan revolusi politik di Amerika Serikat (1776) dan Prancis (1789) serta Revolusi Industri yang bermula di Inggris (masih abad ke-18) yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Selain liberalisme, muncul pula kapitalisme yang mengalami kejayaan di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang. Revolusi industri Inggris juga memiliki pengaruh terhadap perubahan feodalisme Eropa dan masyarakat-masyarakat budaya di Eropa Barat. Jaman kapitalisme ini semakin meningkat dengan adanya teori kebebasan pasar oleh Adam Smith.

Samuel Huntington membagi gelombang demokrasi dunia dalam tiga bagian, yaitu:

Gelombang Demokrasi I (1820-an – 1918)

Gelombang pertama demokrasi ini ditandai dengan lahirnya nasionalisme dan kegagalan modernisasi yang pertama. Demokrasi-demokrasi yang dibangun pada abad ke-18 dan abad ke-19 memperoleh keuntungan dari jaman Pencerahan dan dua atau tiga abad diisi dengan pembangunan sosial dan ekonomi. Negara-negara pada tahap ini memiliki waktu dari posisi kuat dalam ekonomi global hingga menemukan basis demokrasi mereka.

a. Karl Marx

Karl Marx sebagai pengembang teori materialisme dialektikal mempersepsikan bahwa terdapat akhir dari suatu sejarah. Pemikiran Marx yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran era Pencerahan (Enlightenment) menganggap bahwa sejarah bergerak maju secara dialektikal yang dikendalikan oleh perubahan teknologi dan ekonomi.

Marx memperkirakan bahwa modernisasi ekonomi tidaklah mengarah pada kemakmuran, masyarakat sipil yang kooperatif dan damai, dan demokrasi politik (sebagaimana pandangan liberal), justru malah modernisasi ekonomi itu akan mengarah pada semakin besarnya perjuangan kelas, bersatunya kelas pekerja melawan kelas pemilik modal, kemiskinan, konflik, gagalnya masyarakat sipil, revolusi, dan pada akhirnya munculnya kalangan tidak berkelas yaitu masyarakat komunis.

Kelemahan argumen Marx adalah tidak dapat memperkirakan bahwa nasionalisme akan menjadi bentuk politik yang sangat kuat pada abad keduapuluh.

b. Lenin

Lenin memperluas pendapat Marx dengan memasukkan perlunya analisis atas ekonomi dunia dan sistem internasional (terutama imperialisme). Menurut Lenin, imperialisme adalah tingkatan tertinggi dari kapitalisme, karena kemampuannya untuk memperhitungkan secara mendasar sistem sosial dan organisasi ekonomi di Eropa ke dalam empat penjuru dunia. Dengan cara demikian menyelesaikan sejumlah krisis fundamental dan krisis-krisis dalam kapitalisme.

Imperialisme ini (dengan dibukanya pasar-pasar baru dan tempat-tempat penjualan untuk investasi produktif) justru hanya akan menyediakan sebuah penundaan sementara dari revolusi. Pada akhirnya, partai komunis yang didukung oleh kekuatan militer akan memimpin kelas pekerja dalam perjuangannya di seluruh dunia untuk melawan kapitalisme.

c. Barrington Moore

Teori Moore (revolusi dan tipologi rejim) cukup dapat menjelaskan mengenai apa yang terjadi pada pertengahan pertama abad keduapuluh. Di negara-negara dengan borjuasi kuat atau kelas menengah (seperti Inggris dan Amerika Serikat), demokrasi kapitalis bertahan dan berkembang. Sebaliknya, di negara-negara yang terlambat maju dimana kelas elit lebih berkuasa ketimbang kelas menengah (seperti Jerman dan Jepang) hasilnya adalah nasionalisme militeristik dan kepemimpinan diktator yang fasis.

Kelemahan teori Moore adalah:

  1. Menurut Theda Skocpol: teori Moore gagal memperhitungkan pentingnya konteks internasional yang berubah,
  2. Kurangnya perhatian yang diberikan untuk kepentingan masyarakat sipil (atau politik) sebagai sebuah kekuatan bagi keberlanjutan dan perubahan, dan
  3. Teori-teori struktural atau berbasis-kelas dari perubahan memiliki kesulitan untuk menjelaskan pola-pola berbeda secara luas dari legitimasi yang muncul dari segi historis dan kultural secara spesifik di dunia Barat.

d. Akhir gelombang pertama demokrasi

Faktor-faktor penyebab berakhirnya gelombang pertama demokrasi adalah:

  1. Nasionalisme
  2. Perang Dunia I (1914-1918)
  3. Revolusi Oktober Rusia 1917 (Lenin dan Partai Bolshevik)
  4. Fasisme di Italia dan Jerman.

Ini berbeda dengan argumentasi Marx bahwa perjuangan kelas akan mengakhiri gelombang demokrasi yang pertama.

Menurut Barrington Moore, keempat faktor di atas ini juga mengembangkan tiga rute menuju modernitas yaitu demokrasi kapitalis dan demokrasi parlementer, kapitalis dan rute fasis yang disertai nasionalis dan militeris, dan rute komunis.

Gelombang Demokrasi II (1945 – 1962)

Pelajaran terbesar di dalam gelombang demokrasi kedua ini adalah bahwa kekejaman ekonomi dan salah kelola menyengsarakan negara-negara demokrasi baru. Gelombang demokrasi kedua ini ditandai dengan dekolonisasi dan kegagalan modernisasi yang kedua.

Inilah konsekuensi dari terjadinya Perang Dunia II (1939-1945) yang ditandai dengan dekolonisasi dan perluasan bentuk pemerintahan demokratis ke dalam masyarakat dan kebudayaan yang sebagian besar berupa masyarakat sipil yang lemah dan tidak memiliki sejarah lampau mengenai pemerintahan rakyat atau ekonomi pasar.

Pada periode ini terjadi perubahan sistem internasional dari sistem multilateral ke arah sistem bipolar. Sistem multilateral berbasis pada Politik Kekuatan Besar oleh negara-negara Eropa yang bersaing untuk wilayah-wilayah dan pasar-pasar di Afrika, Asia, dan benua Amerika. Sistem bipolar berbasis pada keseimbangan teror nuklir antara dua superpower pada saat itu yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Era ini juga sedikit kurang beruntung jika dibandingkan dengan era gelombang demokrasi pertama

Era kemudian mengalami penurunan dan transisi oleh faktor-faktor berikut:

  1. Negara-negara demokrasi baru di Afrika, Asia, dan Amerika Latin terhisap ke dalam Perang Dingin dan terperangkap dalam apa yang disebut “ketergantungan”. Ekonomi negara-negara di benua tersebut tergantung pada Amerika dan Eropa. Sementara, Uni Soviet juga menjadi pihak bergantungnya Eropa Tengah dan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin baik secara politik maupun ekonomi.
  2. Ketergantungan ini menyebabkan runtuhnya demokrasi sekaligus munculnya otoritarianisme.
  3. Bagi negara-negara berkembang, demokrasi dengan cepat berubah menjadi kepura-puraan karena adanya korupsi di kalangan penguasa. Pembangunan ekonomi mengalami krisis dan hiperinflasi. Meksiko mengalami ini pada tahun 1982.
  4. Kalangan militer menegaskan kembali dirinya sebagai satu-satunya kekuatan yang semi-absah.

Gelombang Demokrasi III (1974 – sekarang)

Gelombang demokrasi ketiga ini ditandai dengan efek menyatunya ekonomi politik internasional yaitu berupa dua hal:

  1. Terjadinya transisi ke arah demokrasi telah terjadi dengan kecepatan yang memusingkan yang memberikan waktu yang singkat bagi masyarakat-masyarakat untuk bersiap menuju pemerintahan representatif yang kurang lebih mendidik kebudayaan sipil. Dibandingkan dengan Eropa Barat, Amerika Serikat, dan negara-negara bekas jajahan Inggris, negara-negara yang mengalami transisi ini tidak punya persiapan yang matang, akhirnya lebih bersifat improvisatif dan kemunduran demokrasi.
  2. Semakin pentingnya faktor-faktor eksternal atau internasional dalam memacu perubahan rejim, terutama dari globalisasi ekonomi yang berdampak tekanan yang luar biasa dan pembatasan-pembatasan terhadap hampir semua masyarakat-masyarakat.

Proses demokratisasi pada gelombang ketiga demokrasi ini terdiri tiga jalur yang ditempuh oleh masyarakat-masyarakat di wilayah-wilayah berbeda di seluruh dunia, yakni:

  1. Jalur pertama: rejim-rejim yang lebih terbuka yang dimulai dari pemerintahan militer. Misalnya: Yunani, Spanyol, Portugal, Brasil, Argentina, dan Chili.
  2. Jalur kedua: transisi yang muncul dari rejim otoritarian yang dikuasai oleh partai dominan tunggal. Misalnya: Taiwan, Filipina, dan Afrika Selatan.
  3. Jalur ketiga: transisi terakhir yang dimulai dari rejim yang didominasi oleh oligarki komunis. Misalnya: Eropa Tenggara dan negara-negara eks-Uni Soviet.

Pada era ini, masyarakat sipil (seperti keluarga, marga, suku, atau gereja) memiliki peran yang menentukan transisi dari otoritarianisme pada saat itu karena faktor-faktor berikut:

  1. Kuatnya masyarakat sipil pada momentum transisi. Masyarakat sipil lah yang harus dapat menyediakan sumber-sumber pemerintahan dan kepemimpinan ketika terjadi keruntuhan tatanan pemerintahan.
  2. Kemampuan ekonomi dari rejim baru (reformasi ekonomi) yang menyediakan jalur baru bagi rejim demokratis baru untuk membangun kembali dan memperkuat masyarakat sipil.
  3. Munculnya kebudayaan sipil yang berbasis pada hukum dan pemilihan umum.

Apabila ketiga faktor di atas dapat menanggulangi masalah-masalah fundamental pembangunan, maka akan ada kesempatan untuk memperkuat demokrasi dan hasil-hasilnya.

Di kalangan akademisi ekonomi dan politik sendiri terdapat debat mengenai rekomendasi mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengkonsolidasikan negara-negara demokrasi baru. Menurut kalangan pakar ekonomi bahwa penting untuk bergerak ke arah solusi pasar dengan agresif. Sementara, para ilmuwan politik dan sosiologi seringkali memperingatkan mengenai akibat-akibat politik dan sosial yang negatif dari reformasi yang berlangsung dengan cepat.

Sumber : Pathways to Democracy oleh James F. Hollifield dan Calvin Jillson, Routledge, 2000

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Tiga Gelombang Demokrasi

  1. rengga moslem berkata:

    good writting. Salam kenal
    boleh bertanya, bisa tidang menggunakan teori Gramsci untuk mengkaji fenomena demokrasi gelombang ke dua? # trimakasih sebelumnya.

    • protuslanx berkata:

      Bisa, teori hegemoni dari cendekiawan Italia, Antonio Gramsci, berkaitan dengan upaya para elit terutama AS dan Eropa serta Uni Soviet untuk mempertahankan kekuasaan mereka selama hampir dua dasawarsa setelah Perang Dunia II berakhir; bipolaritas AS-Uni Soviet yang bersifat sementara; timbulnya otoritarianisme di Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang menerapkan tindakan paksa (kekerasan) dan konsensus sebagai unsur pembentuk negara sehingga muncul kecenderungan bahwa ‘negara adalah segala-galanya’; dan pentingnya unsur ekonomi (modernisasi) selain ideologi sebagai kondisi material pembentuk hegemoni. salam kenal juga. semoga membantu. thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s