“Pancasilanomic”


Kalau ada Clintonomic, Reaganomic, atau dalam skala besar ada teori-teori pembangunan ekonomi seperti teori pasar “invisible hand-nya” Adam Smith dan para pendukungya, teorinya kenapa Indonesia tidak bisa punya kebijakan ekonomi sendiri? Semoga suatu saat pemimpin di negeri tercinta ini punya konsep sendiri yang setidaknya ia bukan pejabat titipan para pengusaha yang menjadi donatur dana kampanye.

Pancasilanomic ini Protuslanx angkat sebagai tulisan berdasarkan 2 perspektif ekonomi pembangunan global dan dampaknya, yaitu:

1. Perspektif kelompok pentingnya peran tunggal pemerintah sebagai pembuat kebijakan (Keynesian, kaum Behavioris Modernist di Amerika Serikat, Rostow, kaum Strukturalis (Lewis, hingga Marxist)

2. Perspektif kelompok kebebasan pasar (kaum Klasikal/ Liberal Adam Smith, David Ricardo, sampai kaum Neo-liberalis/ klasikal Deepak Lal dan Bela Balassa)

Kedua perspektif di atas (menurut pemahaman Protuslanx) tidak pernah benar-benar “manjur” untuk Indonesia. Ketika era pemerintahan Soekarno diikuti dengan era Soeharto, trend sosialisme dan bentuk kepemimpinan terpusat (terkontrol oleh pemerintah) tidak mampu menyentuh rakyat, sementara di sisi lain muncul “fisik-fisik mercusuar” seperti Monas, Gelora Bung Karno, dll. Pada titik pemerintahan Soekarno, bisa dikatakan Indonesia berorientasi pada perspektif nomor 1 di atas yang menekankan peran pemerintah. Namun, pada kenyataannya Indonesia tidak mampu mengangkat status sosial mayoritas masyarakatnya dari garis keterbelakangan dan kemiskinan.

Kemudian, era selanjutnya yang dimulai oleh era Habibie (sebagai penggebrak kebebasan pasar) diikuti era Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan kini era SBY masih menimbulkan kondisi yang sama ketika Indonesia diwarnai oleh Orde Lama dan Orde Baru. Yang sama dalam hal ini berarti ada kondisi stagnan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Jadi, kedua perspektif di atas yang sudah pernah diterapkan di negeri ini ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan. Signifikan dalam arti bahwa tingkat atau gap antara pendapatan dan konsumsi antara yang kaya dan miskin sangat jauh berbeda.

Kalau kita bandingkan dengan kondisi ekonomi di Korea Selatan, Inggris, Taiwan, dll, apapun pekerjaannya, disparitas pendapatannya tidak terlalu jauh. Bahkan hanya selisih beberapa ratus ribu rupiah. Contohnya, seorang pekerja kebun hampir sama penghasilannya dengan seorang manajer perusahaan, atau seorang pembantu rumah tangga di negara-negara tersebut di atas tidak seberapa jauh bedanya dengan seorang pengacara. Inilah disparitas penghasilan yang seharusnya bisa dicapai Indonesia.

Menurut Protuslanx, Indonesia harus punya acuan kebijakan ekonomi sendiri. Jadi, Indonesia tidak perlu terlalu bergantung pada Washington Consensus, dalam istilahnya John Williamson (1989). Apalagi, hingga sekarang Indonesia berada pada tendensi ekonomi yang kurang jelas, meskipun secara teoritik (yang sebenarnya menurut Protuslanx ‘dipaksakan’) Indonesia menganut sistem ekonomi ‘campuran’, bukan kapitalis dan bukan juga berhaluan sosialis.

Indonesia perlu mengembangkan sistem ekonominya sendiri. Setiap negara memiliki pengalaman historis masimg-masing yang tidak bisa di’perspektif’kan secara mutlak dengan melihat pendekatan Barat: linearitas sejarah, tingkat-tingkatan ekonomi, dll (tergantung sang teoritis).

Spektrum doktrin-doktrin ekonomi mulai dari klasik sampai, sosialisme Marx dan pengembangannya, hingga globalisasi, semuanya ternyata tidak selalu menunjukkan arah yang sama dengan apa yang diteorikan terhadap faktanya.

Mungkin kita perlu kembali ke ideologi kita. Indonesia memiliki Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam konteks kenegaraannya. Karena itu, Protuslanx mengusulkan (sekedar usul…) supaya sistem ekonomi kita memiliki arah yang jelas.

Kenapa demikian? Karena Pancasila memuat nilai-nilai yang bisa menjadi solusi di antara dua “pulau” yakni: soal intervensi pemerintah versus soal kebebasan individu dan pasar.

Inilah Pancasilanomic, suatu bentuk keunikan kebijakan ekonomi ala Indonesia yang Protuslanx inspirasikan dari argumentasi salah seorang dosen. Ciri-ciri Pancasilanomic ini adalah:

1. Kebijakan ekonomi berbasis religiusitas, yakni bahwa nilai-nilai agama adalah dasar bagi praktek dan tujuan bagi perumusan dan implementasi pembangunan ekonomi. Ini berangkat dari sila pertama yaitu Ketuhanan YME.

2. Kebijakan ekonomi yang berbasis kemanusiaan, yakni bahwa nilai-nilai kemanusiaan sebagai basis tindakan pemerintah dalam bentuk prioritas pembangunan ekonomi. Jadi, bukan uang semata-mata. Ini berangkat dari sila kedua yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Kebijakan ekonomi yang berbasis kebangsaan, yakni bahwa prioritasnya adalah kepentingan negara, bukan kepentingan asing. Negaralah yang berperan penuh, bukan oleh intervensi asing. Ini berangkat dari sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia.

4. Kebijakan ekonomi yang berbasis kerakyatan, yakni bahwa pembangunan ekonomi harus mengutamakan rakyat, bukan pengusaha, bukan investor asing. Rakyat adalah yang terpenting.

5. Kebijakan ekonomi yang berbasis keadilan, yakni bahwa pembangunan ekonomi tidak berarti melakukan pembiaran kepada mereka yang tidak mampu mengangkat status ekonominya akibat dari kebebasan berusaha. Semua harus dipertanggungjawabkan oleh negara ketika ada segmen masyarakat yang tidak mampu menyediakan sendiri kebutuhannya.

Protuslanx berharap semoga ada suatu “unique conception” yang dapat dirumuskan oleh para ekonom di negeri tercinta Indonesia ini untuk membuat satu panutan pembangunan ekonomi yang didasarkan pada nilai-nilai unik keindonesiaan kita. Sebuah Pancasilanomic kiranya bisa menyadarkan kita tentang perlunya menjadi diri sendiri sebagai sebuah bangsa besar yang punya potensi untuk berada pada level ekonomi yang lebih baik ketimbang sekedar mengandalkan angka-angka dan bersandar pada survivalitas.

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s