Si Manusia Statistik


Seorang pemimpin yang baik seharusnya lebih percaya statistik atau kenyataan?

Indonesia tercinta ini dari dulu selalu dipimpin oleh orang-orang yang lebih mengandalkan angka-angka hasil survei, laporan bawahan, ketimbang melihat sendiri kenyataan yang ada.

Memang ada beberapa pemimpin yang baik. Para pemimpin ini lebih mementingkan kenyataan pada rakyat ketimbang mempercayai data-data hasil survei.

Mereka adalah Abdurrahman Wahid (alias Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri. Namun apa daya, negeri ini harus kehilangan Sang Gus Dur dan Ibu Megawati kini berstatus oposisi bagi si incumbent, bukan di eksekutif lagi.

Namun, Protuslanx berharap karakter-karakter dua pemimpin yang baik tersebut semoga dapat hadir kembali di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Bless…

Nah, kembali mengenai para pemimpin yang lebih mementingkan statistik ketimbang kenyataan. Tentu saja, yang sekarang ini pemimpinnya ya masuk kategori Manusia Statistik!

Menurut Protuslanx, Manusia Statistik adalah pemimpin dari kalangan Trias Politika (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) yang lebih mementingkan angka-angka hasil survei (meskipun tidak akurat, tidak komprehensif, tidak jujur, tidak cerdas, dan tidak bermanfaat) sebagai acuan untuk menyampaikan statement (pernyataan) dan membuat policy (kebijakan).

Tipe pemimpin Manusia Statistik ini ibarat orang yang menyaksikan temannya mengalami tabrakan motor, tetapi bukannya menolong, malah cuma berucap dengan sombong: “Kehati-kehatian itu penting. Saya selalu berhati-hati, dia itulah yang tidak berhati-hati.” Lah!…

Kesal kan kalau ada orang yang seperti itu!

Para Manusia Statistik ini jelas tidak punya hati nurani. Sekalipun ada rakyat Indonesia yang rela menunggu mereka di depan gerbang rumah dan kantor si Manusia Statistik untuk mengadu, mereka tega untuk keluar gerbang dengan sedan-sedan mewah mereka tanpa peduli sedikitpun pada sang rakyat Indonesia.

Para pemimpin statistik ini tidak bisa membedakan diri mereka sendiri dengan Staf Ahli di departemen-departemen mereka. Kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyataan mereka lebih banyak bersifat wacana. Kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyataan mereka lebih banyak bersifat normatif. Kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyatan mereka lebih banyak omong kosongnya ketimbang buktinya!

Mereka lebih suka berbicara kemiskinan dari balik jendela-jendela rumah, kantor, dan tempat pertemuan mewah mereka ketimbang berbicara langsung kepada rakyat Indonesia untuk mendengar keluh kesah mereka.

Bahkan tidak di Jakarta, tidak di Sidoarjo, tidak para petani (padahal si incumbent lulusan doktoral IPB Bogor, yang harusnya kan konsekuen dengan ucapannya dulu untuk memajukan petani Indonesia), tidak para pengungsi eks Timor Timur yang lebih prointegrasi (sampai sekarang ditelantarkan), tidak di Kawasan Timur Indonesia yang penduduknya banyak ditipu para pemimpinnya, tidak di provinsi-provinsi terkorup yang dilaporkan (mudah-mudahan tanpa unsur KKN) ICW (Indonesia Corruption Watch), dan tidak di emperan-emperan negeri Indonesia.

Kumohon, ampunilah para pemimpin bangsaku wahai Tuhan Yang Maha Esa!

Faktanya, banyak rakyat Indonesia yang semakin miskin, banyak yang stress, banyak yang bunuh diri, banyak yang masuk rumah sakit jiwa, banyak tidak terurus kesehatannya karena rumah sakit hanya untuk orang berduit, banyak yang menganggur, banyak yang terkena ledakan gas elpiji 3kg, banyak yang rumahnya digusur tanpa kompensasi, banyak yang tanahnya diambil tanpa ganti rugi, banyak yang diusir dari propertinya sendiri, banyak yang rasa keadilannya diancam oleh negara, banyak yang mengalami ketidakadian karena tidak punya uang untuk membela diri di hadapan hukum, banyak yang diperbodoh, banyak yang ditipu, banyak yang difitnah hanya karena tidak mau ikut KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), banyak yang diacuhkan oleh para pemimpin hanya karena mereka rakyat kecil, dan banyak rakyat yang lebih diperlakukan sebagai…(maaf)…binatang…ketimbang sebagai manusia oleh alat negara (baca: Satpol PP)!

Tuhan! Ampunilah bangsa kami!

Punya mata tapi tak melihat. Punya telinga tapi tak mendengar. Punya hati (bukan liver…, ed.) tapi tak merasa…

Padahal ada surat kabar, ada majalah, ada Facebook, ada Twitter, dan ada situs-situs web LSM jika setidaknya si Manusia-Manusia Statistik merasa jijik untuk langsung bersua dengan rakyat Indonesia.

Sungguh kasihan rakyat Indonesia. Tetapi, bukankah mereka sendiri yang memilih si Manusia-Manusia Statistik?

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s