Berjalan Kaki 21 Hari Demi Keadilan


Negeri Indonesia masih memiliki banyak sekali ketidakadilan. Ngerinya, ketidakadilan itu bukan disebabkan oleh pihak luar (baca: negara luar), justru banyak disebabkan oleh orang-orang Indonesia sendiri, terutama para pejabat dan pegawai negeri mulai dari tingkat kelurahan hingga tingkat kepresidenan.

Sebelumnya ada juga perjuangan lain yang menyentuh hati nurani kita seperti kasus Susi Hariani asal Bojonegoro, masih dalam bulan Juli 2010 ini, yang naik bis ke Jakarta membawa anaknya Ridho Januar alias ldo. Tak peduli dengan kondisi balita yang penuh luka bakar di wajahnya.

Ayah, sebagaimana halnya Ibu, adalah sosok yang sangat Protuslanx hormati dan kagumi. Juga menjadi pembelajaran dan teladan bagi Protuslanx untuk menjalani hidup ini. Meskipun tidak sempurna, seorang ayah akan melakukan hal-hal yang luar biasa demi kebenaran. Walaupun sudah berlalu 17 tahun yang lalu, sang ayah masih berjuang demi keadilan!

Inilah salah satu kisah nyata lain yang menggugah hati Protuslanx. Seorang ayah bernama Indra Azwan (umur 51 tahun) rela untuk BERJALAN KAKI dari Malang ke Jakarta untuk mengadukan perkara pembunuhan terhadap salah seorang putranya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Beliau yang tinggal di Genuk Watu Barat Gang II No. 95 Kecamatan Blimbing, Malang, Jawa Timur ini berangkat menuju Jakarta sejak 9 Juli lalu. Hanya bermodalkan ransel ala militer, dua pasang sepatu, tiga pasang kaus kaki, dan lima potong baju, sebuah peta serta bekal uang Rp, 500.000. Di tas ranselnya, selain pakaian dan berkas-berkas dia menyimpan banyak plester untuk ditempel di kakinya yang pecah-pecah.

Sepanjang perjalanan, dua spanduk ditempelkannya di depan dan belakang tubuhnya, dan sebuah bendera merah putih dengan tiang kecil ditempel di tas punggungnya. Di depan, spanduk putih yang mulai kusam itu itu ditulis “aksi jalan kaki Malang-Jakarta“. Sedangkan di belakang tertulis “Korban janji gombal Satgas Mafia Hukum, 17 tahun mencari keadilan“.

Pak Azwan berjalan setiap hari setidaknya 15 Jam sehari, mulai dari jam 05.30 wib, hingga pukul 21.00 WIB. Untuk beristirahat beliau mencari komunitas orang-orang Malang atau menginap di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).

Untungnya, selama perjalanan beliau tidak henti-hentinya mendapatkan teman, bantuanpun silih berganti datang seiring aksinya menarik banyak perhatian orang. Ketika tiba di Lembaga Bantuan hukum (LBH) Jakarta kemarin sejumlah orang dari berbagai kota yang ia pernah sambangi selama perjalananpun tampak masih setia menemani.

Pak Azwan pun tiba di depan Istana Negara 30 Juli kemarin. Walaupun penuh keringat, kelelahan pun tidak ada artinya. Beliau tiba dengan wajah segar, mungkin dalam pikirannya, “Akhirnya…perjuanganku tidak sia-sia!”

Begitu tiba Azwan duduk di lantai kantor LBH yang saat itu sedang ada diskusi. Azwan tiba di LBH, Jl. Mendut, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.40 WIB. Dengan kaki selonjoran dia duduk di lantai depan peserta diskusi publik bertajuk “Memperluas Akses Masyarakat terhadap Keadilan Melalui Gerakan Umum”. Tema yang sungguh kebetulan tepat…

Perjalanan itu menyebabkan kakinya kapalan dan dua kuku kakinya hampir copot. Namun, beliau mengungkapkan bahwa bukanlah kakinya yang sakit, tetapi hatinya lah yang sakit karena keadilan hanya berpihak kepada orang kaya.

Entah disengata atau tidak, saat berada di Istana Merdeka, Indra bertemu dengan anaknya yang tinggal di Jakarta. Kedua bapak dan anak itu pun akhirnya berpelukan dan menangis. Setelah itu dia langsung berorasi.

Kejadian ini bermula dari peristiwa tabrakan mobil terhadap putra Pak Azwan. Tujuh belas tahun lalu, (8 Februari 1993), sepulang dari kegiatan belajar kelompok, putranya yang bernama Rifki Andika (12), tewas ditabrak mobil Honda Accord L-512-BH yang dikemudikan seorang perwira Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Malang , Joko Sumantri (JS), di Jl. S. Parman, Malang, Jawa Timur. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 18.00. Namun, oknum polisi yang menjadi pelaku tabrakan yang seharusnya bertanggung jawab itu hingga sekarang tidak tersentuh hukum.

Semalaman mendapat perawatan di RSSA, esok harinya siswa kelas VI SD Taman Siswa, Blimbing, itu akhirnya meninggal. “Kala itu anak saya masih berusia 12 tahun. Yang menabrak perwira polisi yang pasti tahu hukum, tapi bukannya bertanggungjawab pelaku justru kabur,” katanya ketika ditemui di bundaran air muncrat Semarang.

Pak Azwan merasa kecewa dengan hukum karena pelaku tabrak lari itu tak kunjung diadili dan masih bebas berkeliaran. Secercah asa muncul ketika pelaku kemudian disidangkan di Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya pada 23 Mei 2007 atau 14 tahun setelah kasus terjadi. Kompol Joko yang kini masih berdinas di Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur itu dituntut hukuman 1 tahun penjara pada waktu itu, namun akhirnya diputus bebas pada 5 Februari 2008. Menurut beliau, hakim itu membebaskan terdakwa dari vonis karena kasus dinilai sudah kadaluwarsa. Yang aneh adalah sampai kini beliau tidak boleh melihat putusan hakim itu. Mungkin karena sangat kuatnya beking perwira itu di kepolisian maupun pengadilan.

Berbagai usaha telah ditempuh bapak ini. Sebelum aksi jalan kaki ini, bapak yang berprofesi sebagai loper koran dan penjual kopi itu pernah melakukan berbagai aksi guna menuntut keadilan. Diantaranya mengadukan perkaranya ke Azis Syamsuddin (anggota Komisi III DPR RI), Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas Mafia Hukum), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ombudsman Republik Indonesia (biasa disingkat Ombudsman saja), dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Lembaga Bantuah Hukum (LBH) Jawa Timur, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta, hingga mengirimkan lima kali surat ke Istana Negara dan satu kali ke Cikeas. Tetapi, tetap saja lembaga-lembaga hukum yang berwenang tersebut masih belum berpihak kepada beliau.

Selain itu pada 25 April lalu dia juga menggelar aksi mogok makan di depan kediaman SBY di Cikeas. Sebelum itu pada September 2009 dia juga melakukan aksi mogok makan di depan Monas. Namun semuanya hanya sia-sia tanpa ada tanggapan dari SBY.

Untuk perjuangan 30 Juli 2010 kemarin, beliau harus bersabar karena aksinya untuk menunggu Presiden Yudhoyono keluar dari istana digagalkan oleh polisi dengan alasan tidak memiliki izin. Maka, beliaupun terpaksa kembali ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang mendukung aksi beliau.

Referensi:

http://m.detik.com

http:///www.kompas.com

http://www.dutamasyarakat.com

http://www.suaramerdeka.com

http://www.tribunnews.com

http://www.suarakarya-online.com

Bacalah juga:

Indo”beraninya-cuma-sama-rakyat-kecil”nesia

Jakarta Akan Macet Total 2015!

Perbandingan Kasus Teluk Meksiko dan Lumpur Lapindo

Rokok Kretek Dongkrak Garis Kemiskinan

Stop Perpeloncoan!

Indo”porn”esia?



Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s