Indo”beraninya-cuma-sama-rakyat-kecil”nesia


Hukum memang harus diterapkan dengan tegas. Ujung tombaknya adalah para aparat hukum mulai dari kejaksaan, kehakiman, hingga kepolisian. Namun, ada nilai-nilai lain yang perlu dimiliki aparat hukum di negeri Indonesia tercinta ini agar logika atau daya nalar tidak menjadikan orang-orang yang berwenang ini menjadi robot hukum! Nilai itu adalah: HATI NURANI.

Kasus-Kasus berikut memang sudah basi, Protuslanx hanya mempublikasikannya kembali supaya “amnesia” negeri Indonesia ini tidak benar-benar “kronis”. Setidaknya, walaupun cuma masalah sepele, aparat hukum di Indonesia bisa menjadikan kasus-kasus berikut semacam yurisprudensi.

Dua Janda Pahlawan Terancam Dipenjara Selama Dua Tahun

Ibu (atau mungkin tepatnya nenek) Sutarti Sukarno (78 tahun!) , Timoria Manurung (68 tahun!) dan Roesmini (78 tahun!) diajukan ke persidangan dalam kasus penyalahgunaan rumah dinas Perum Pegadaian. Sutarti dan Rusmini adalah janda dari pasukan brigade tentara pelajar, yang di masa lalu adalah pejuang kemerdekaan.

Para janda pejuang  yang jasad suami mereka dimakamkan di tempat terhormat, Taman Makam  Pahlawan Kalibata (Jakarta) ini menghadapi persidangan  Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan tuduhan menguasai rumah milik Perum Pegadaian (menyerobot rumah negara) secara tidak sah.

Nah, sepertinya memang pegawai negeri sipil berwenang dari alat negara yang bernama “Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian” ini kehilangan kewarasannya!

Rumah yang mereka huni dinilai masih menjadi hak Perum Pegadaian (perusahaan tempat almarhum suami bekerja). Karena itu, kedua nenek ini dinilai tidak punya hak lagi untuk tinggal di rumah daerah Cipinang Jaya (Jakarta Timur) karena suami mereka sudah lama pensiun. Pada Agustus 2008 pihak Perum Pegadaian pun melakukan perintah eksekusi pengosongan dengan alasan bahwa rumah dinas tersebut dibutuhkan oleh pejabat yang masih aktif.

Padahal, mereka sudah mendiami rumah itu puluhan tahun sejak suami mereka masih hidup. Mereka sebenarnya pernah mengajukan permohonan kepemilikan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1999, namun bukannya disetujui, mereka malah harus berhadapan dengan jeratan Pasal 12 ayat 1 Jo. Pasal 36 ayat 4 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang  perumahan dan permukiman atau Pasal 67 ayat 1 KUHP dengan ancaman 2 tahun penjara.

Menurut keterangan media massa, dalam persidangan bulan Mei 2010 lalu ternyata ketiganya tidak pernah diperiksa dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebagai saksi oleh penyidik kepolisian sesuai prosedur. Beliau-beliau hanya disuruh menandatangani tanpa diwawancara oleh penyidik. Jelas bahwa BAP penuh rekayasa dan terkesan dibuat-buat!

Tentu saja nenek Sutarti Sukarno, Manurung, dan Roesmini jelas sangat lelah mengikuti proses persidangan yang berbelit-belit. Mengingat umur beliau-beliau, sepertinya aparat hukum kita tidak punya etika dan rasa hormat kepada orang tua.

Lagipula, sebenarnya kasus seperti ini tidak perlu dibawa ke pengadilan. Cukup saja dengan kepedulian pemerintah (kalau memang ada) untuk memberikan rumah dinas itu atau rumah sederhana yang akan mereka tempati dengan status rumah yang dihibahkan negara. Ini baru namanya hati nurani Indonesia.

Namun, akhirnya vonis bebas bagi nenek Sutarti Sukarno dan Roesmini sudah diputuskan 27 Juli 2010 ini. Hukuman 2 bulan dengan masa percobaan 4 bulan yang menjadi keputusan akhir Pengadilan Negeri Jakarta Timur pun terhindari. Mudah-mudahan ini adalah langkah terakhir bagi proses pengadilan. Semoga tidak ada lagi “pikir-pikir” dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pihak Perum Pegadaian Jakarta Timur.

Tinggal kasusnya nenek Timoria Manurung nih belum jelas! Harusnya keputusannya bisa sama dengan vonis bebas nenek Sutarti Sukarno dan Roesmini.

Kiranya rumah dinas itu bisa mendapat persetujuan dari pihak-pihak yang berwenang untuk menjadi milik tetap keluarga beliau-beliau. Oh Indonesiaku…

Pencurian 3 Biji Kakao Diganjar 1 Bulan 15 Hari

Nenek Minah (55 tahun!) dari Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas ini harus menghadapi masalah hukum hanya karena tiga biji kakao (seberat 3 kilogram) senilai Rp 2 ribu yang dipetiknya tanpa ijin dari sang pemilik.

Setiap kali menjalani pemeriksaan, Minah harus mengeluarkan ongkos hingga Rp 50 ribu untuk ojek dan angkutan umum dari rumahnya menuju Purwokerto yang berjarak sekitar 40 km tersebut.

Kasus ini bermula dari keinginan nenek Minah menambah bibit kakao di rumahnya pada Agustus 2009 lalu. Nenek Minah mengaku sudah menanam 200 pohon kakao di kebunnya, tapi dia merasa jumlah itu masih kurang, dan ingin menambahnya sedikit lagi.

Karena hanya ingin menambah sedikit lagi, dia memutuskan untuk mengambil buah kakao dari perkebunan kakao PT Rumpun Sari Antan IV yang berdekatan dengan kebunnya. Ketiga biji kakao itu pun diletakkan di bawah pohon, karena akan memanen kedelai di kebunnya.

Salah seorang mandor PT RSA IV yang sedang patroli pada saat itu menemukan ketiga biji kakao itu. Nenek Minah pun ditanyai dan beliau mengaku telah mengambilnya untuk dijadikan bibit. Mandor itu pun menjelaskan bahwa kakao di perkebunan PT RSA IV dilarang dipetik warga seperti yang terpasang di depan jalan masuk kantor PT RSA IV berupa petikan pasal 21 dan pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2004 tentang perkebunan.

Nenek Minah yang buta huruf ini pun meminta maaf kepada mandor itu dan mempersilakannya untuk membawa ketiga biji kakao itu. Begitulah, nenek Minah akhirnya harus terkaget-kaget ketika kesalahan kecil itu berbuntut panjang sampai-sampai menyeretnya ke meja hijau.

Kasus ini disidangkan sejak 19 Oktober 2009. Menurut pihak Kejaksaan Negeri Purwokerto, akibat perbuatan nenek Minah mengambil barang milik orang lain tanpa ijin tersebut, maka beliau dijerat pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pencurian, dengan ancaman enam bulan penjara. Dalam dakwaan yang ditujukan kepada Minah, jumlah kerugiannya mencapai Rp 30 ribu atau Rp 10 ribu per butir. Karena hukumannya hanya enam bulan, maka nenek Minah pun tidak perlu ditahan.

Akhirnya, pada 19 November 2009, Pengadilan Negeri Purwokerto menjatuhkan putusan pidana satu bulan 15 hari dengan masa percobaan tiga bulan. Namun, putusan majelis hukum menambahkan bahwa nenek Minah tidak perlu menjalani hukuman tersebut karena faktor usia dan pekerjaannya sebagai petani kakao yang tidak punya apa-apa.

Menurut Protuslanx, nenek Minah seharusnya cukup dipertemukan dengan pihak wakil PT RSA IV, kemudian diselesaikan dengan cara yang baik. PT RSA IV semestinya memahami seorang nenek Minah dengan keterbelakangan pendidikan dan usia yang sudah lanjut.  Jadi cukup dengan memaafkan nenek Minah tanpa harus mementingkan proses hukum yang sebenarnya tidak terlalu signifikan.

Pencurian 14 Kilogram Kapuk Randu Dikenai Penjara

Manisih (40 tahun), Sri Suratmi (19 tahun), Juwono (16 tahun) dan Rusnoto (14 tahun) adalah empat warga Desa Kenconorejo, Kecamatan Tulis, Batang, Jawa Tengah yang ditahan di Rumah Tahanan Rowobelang (Batang) dengan tuduhan mencuri 14 kilogram kapuk randu.

Keempatnya tertangkap tangan membawa sekarung kecil buah randu seberat 14 kilogram di perkebunan milik PT Segayung di Desa Sembojo, Tulis, pada awal November 2009 lalu. Ketika itu, mereka beranggapan bahwa mengambil rontokan randu  merupakan hal yang lumrah, jauh dari kesan mencuri.

Namun, mandor perkebunan menganggapnya sebagai pencurian. Merekapun akhirnya mendekam di Rumah Tahanan Rowobelang dengan dikenai Pasal 363 KUHP tentang pencurian dan pemberatan, yang ancaman hukumannya lima tahun penjara.

Padahal, rontokan randu yang dikumpulkan keempat tersangka hanya seberat 5 kilogram, yang hanya akan menghasilkan kapas sekitar 2 kilogram. Harga per kilogram kapas hanya Rp 4 ribu. Belum lagi keluar tahanan, Manisih mengaku keluarganya didatangi oknum penegak hukum yang meminta uang Rp 3 juta sebagai uang ganti pembebasannya.

Mungkin masih banyak kasus lain seperti ini hanya saja tidak terliput oleh media alias reporter jurnalistik yang berada di lapangan.

Pencurian 1 Buah Semangka Berujung Penjara 15 Hari

Suyanto (47 tahun) dan Kholil (50 tahun) adalah dua warga Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur yang harus menjalani hidup di balik terali besi gara-gara memakan satu buah semangka sisa hasil panen tanpa izin pemilik kebun. Padahal, harga satu semangka itu tak sampai Rp 5 ribu!

Tragedi ini terjadi ketika Basar bersama Kholil tengah merayakan Idul Fitri pada September 2009 lalu. Siang yang sangat panas itu membuatnya haus. Kebetulan di sawah ada banyak semangka. Keduanya mengambil dan langsung memakannya. Saat itulah mereka ketahuan adik sang pemilik ladang, yang juga seorang polisi.

Permintaan maaf mereka tak digubris polisi ini. Bahkan mereka kena ‘permak’ beberapa kali. Keduanya pun dimasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Kediri untuk menunggu disidang.  Keduanya dituntut 2 bulan 10 hari. Pada akhirnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kediri memvonis keduanya masing-masing 15 hari dan percobaan 1 bulan karena terbukti memenuhi unsur-unsur yang diatur dalam Pasal 363 KUHP.

Referensi:

http://m.kompasiana.com

http://m.antaranews.com

http://www.indosiar.com

http://www.cicak.or.id

http://wap.vivanews.com

http://www.wartakotalive.com

http://www.mediaindonesia.com

Bacalah juga:

Berjalan Kaki 21 Hari Demi Keadilan

Jakarta Akan Macet Total 2015!

Perbandingan Kasus Teluk Meksiko dan Lumpur Lapindo

Rokok Kretek Dongkrak Garis Kemiskinan

Stop Perpeloncoan!

Indo”porn”esia?


Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s