Stop Perpeloncoan!


Protuslanx menulis posting ini bukan berarti anti-penyelenggaraan masa orientasi di sekolah-sekolah. Protuslanx sudah melalui masa-masa seperti itu ketika mulai dari sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) hingga universitas. Pengalaman Protuslanx adalah supaya ini bisa menjadi pembelajaran bagi banyak pihak untuk tidak membiarkan program sekolah ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perpeloncoan (kata dasarnya ‘pelonco’) berarti pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dengan mengendapkan (mengikis) tata pikiran yg dimiliki sebelumnya.

Protuslanx berpendapat bahwa tradisi di lembaga-lembaga pendidikan kita yang sebenarnya diajarkan pertama kali oleh Jepang ini (ketika menjajah Indonesia) sudah ketinggalan jaman. Tradisi perpeloncoan ini adalah tradisi yang sudah seharusnya ditinggalkan ketika Jepang sudah “angkat kaki” dari negeri tercinta kita, Indonesia, pada tahun 1942.

Ketika negeri kita merdeka dari penjajahan Jepang, maka sudah selayaknyalah kita juga merdeka dari perpeloncoan Jepang! Inilah perspektif Protuslanx…

Masih perlukah diadakan perpeloncoan di lembaga-lembaga pendidikan kita?

Memang, cukup mengherankan, tradisi perpeloncoan selalu mengalami “pembiaran”  selama 65 tahun Indonesia merdeka (jelang 17 Agustus 2010)!

Indonesia kita adalah Indonesia yang memiliki adat istiadat ketimuran yang unik, sopan santun, tradisi yang lebih menekankan penghargaan terhadap orang lain ketimbang menonjolkan diri sendiri. Itulah ciri keindonesiaan kita yang sesungguhnya.

Keindonesiaan kita ini sebaiknya mendapat porsi yang penuh dalam tradisi pendidikan kita, jadi bukan pola pikir yang diajarkan penjajah yang perlu kita lestarikan. Kita memiliki pola pikir “genuine” sebagai orang Indonesia, maka untuk itulah tulisan ini dibuat: supaya kita kembali kepada keindonesiaan kita yang menjunjung tinggi moral, khususnya dalam dunia pendidikan kita. Kita terapkan yang baik yang bisa dipelajari dan kita hapuskan apa yang tidak baik untuk moral generasi muda Indonesia.

Seharusnya ketika jaman  berubah maka kita juga harus siap dengan perubahan itu. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik, bukan perubahan ke arah yang lebih buruk.

Mengapa demikian? Karena sudah jelas, tidak ada manusia yang tidak ingin hidupnya lebih baik. Begitu pula dengan tradisi perpeloncoan di sekolah-sekolah kita, mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Kejuruan/  Umum, hingga tingkat Perguruan Tinggi (universitas, institut, atau sekolah tinggi).

Perlu diingatkan kembali bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan. Sekolah bukanlah lembaga “lembaga campur aduk” yang tidak karuan. Lembaga pendidikan adalah tetap lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang sesungguhnya adalah lembaga yang diisi oleh orang-orang yang berpendidikan dengan pola pikir yang terdidik, untuk mendidik orang-orang menjadi lebih terdidik.

Jadi, lembaga pendidikan harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mendidik. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mendidik itu juga harus diadakan dengan cara-cara yang terdidik. Menurut Protuslanx, cara-cara yang terdidik dalam pelaksanaan masa orientasi di sekolah-sekolah harus memiliki unsur-unsur  yaitu:

  1. Memiliki unsur etis, yakni tidak mengandung unsur kekasaran atau kekerasan (baik verbal maupun non-verbal).
  2. Memiliki struktur yang jelas, artinya ada urutan-urutan acara yang jelas harus diikuti sesuai dengan yang diagendakan pada waktu rapat panitia. Tentu saja harus “on time.”
  3. Memiliki orientasi moral, yakni tidak menghasilkan efek “balas dendam”, tetapi justru berefek “balas budi”, tidak ada perendahan martabat seseorang hanya karena ia berbeda.

Spektrum targetnya (masa orientasi ini) adalah mulai dari budi pekerti, etika, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, hingga pada penguasaan materi pembelajaran (kurikulum), prestasi akademik, prestasi non-akademik. Ini semua berujung pada peningkatan intelegensi.

Nah, menurut Protuslanx, inilah yang seharusnya ditekankan di setiap masa orientasi mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Ketiga unsur di atas adalah bertujuan baik, bukan mereduksi kemampuan siswa/i atau mahasiswa/i ke arah yang bermoral buruk.

Tradisi-tradisi seperti berpakaian aneh, menyediakan barang-barang yang seharusnya tidak terlalu dibutuhkan, kegiatan baris-berbaris yang tidak jelas, dan juga games-games yang justru bersifat kekanak-kanakan ketimbang bermanfaat adalah hal-hal yang harus dihapuskan. Ini harus dihapuskan karena cara-cara yang ketinggalan jaman seperti ini justru seolah-olah semakin membuat siswa/i dan/ atau mahasiswa/i baru memiliki pola pikir yang kekanak-kanakan, bukan semakin matang mentalnya.

Apapun alasannya, sudah saatnya kita harus dewasa dalam masa pembelajaran kita sebagai siswa atau sebagai mahasiswa.  Jadi, seperti apa semestinya bentuk penyelenggaraan masa orientasi itu?

Protuslanx berpendapat bahwa hal-hal berikut bisa menjadi acuan penyelenggaraan masa orientasi, yakni:

  1. Kegiatan religius dalam bentuk retreat. Sebaiknya bukan dari kalangan agama tertentu, tetapi justru dari kalangan psikolog. Psikolog yang diundang sebagai pemandu selama retreat merupakan bentuk pembelajaran tentang kehidupan yang baik. Para siswa/i atau mahasiswa/i bisa mendapat pembelajaran baru dari sudut pandang atau perspektif lain. Pengenalan diri dan orang lain yang lebih fokus bisa didapatkan dari program semacam ini. Sebaiknya acara ini cukup 2 hari saja.
  2. Kegiatan debat mengenai topik tertentu. Ini bisa dalam bentuk membagi dua kelompok yang pro dan kontra. Sekaligus bisa melatih kekompakan. Agar terstruktur, perlu ada moderator yang baik, kemudian disimpulkan berapa persen yang pro dan berapa persen yang kontra, serta hasil kesimpulan debat itu sendiri. Kegiatan ini bisa diadakan selama 1 jam penuh.
  3. Kegiatan peliputan mengenai tempat-tempat tertentu. Para siswa/i baru atau mahasiswa/i baru dibagi dalam beberapa kelompok untuk menguji kekompakan, daya analisis, dan sikap empati yang baik. Tempat-tempat ini bisa seperti: halte bis (tempat berkumpulnya anak-anak jalanan), tempat-tempat terminal pembuangan sampah (tempat-tempat para pemulung berkumpul), panti-panti (bisa panti asuhan atau panti jompo), atau bahkan di tempat-tempat rehabilitasi para pecandu narkoba. Program dokumentasi ini cukup dalam bentuk makalah, wawancara, dan jika memungkinkan dilengkapi dengan foto-foto lapangan.
  4. Kegiatan peduli lingkungan. Program ini bisa dilakukan pada pagi hari. Lokasinya cukup di sekitar kampus dalam radius 2 km. Selain itu, bisa ditambahkan dengan aksi menanam pohon (dalam polibag) yang dibagi dalam beberapa kelompok. Supaya konsisten, program ini terus berlanjut dengan pengawasan terhadap pemupukan, penyiraman, atau perawatan lainnya yang diperlukan hingga kelulusan siswa/i atau mahasiswa/i. Dengan cara ini, konsistensi mendapat porsi yang lebih dalam pembelajaran siswa/i atau mahasiswa/i.
  5. Kegiatan seminar atau kuliah umum mengenai topik tertentu. Dijadwalkan untuk tiga hari berturut-turut. Bisa dilengkapi dengan bedah buku dengan mengundang tokoh-tokoh yang dianggap signifikan.

Khusus untuk kalangan mahasiswa/i di Perguruan Tinggi, kesadaran sebagai anak muda yang beruntung bisa melanjutkan kuliah adalah sepatutnya ada. Banyak anak-anak muda karena keterbatasan dana tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, jangan sia-siakan masa-masa kuliah ini.

Hakikat menjadi mahasiswa/i adalah menjadi pribadi yang berorientasi intelegensi agar mampu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu:

  1. Pendidikan dan pengajaran.
  2. Penelitian dan pengembangan.
  3. Pengabdian pada masyarakat.

Menjadi mahasiswa/i adalah menjadi pribadi yang lebih dewasa.  Menjadi mahasiswa/i adalah menjadi pribadi yang terdidik. Menjadi mahasiswa/i bukanlah menjadi preman atau sampah masyarakat.

Semoga artikel ini bermanfaat.

“Violence, even well intentioned, always rebounds upon oneself.”
Lao Tzu

Bacalah juga:

Berjalan Kaki 21 Hari Demi Keadilan

Indo”beraninya-cuma-sama-rakyat-kecil”nesia

Jakarta Akan Macet Total 2015!

Perbandingan Kasus Teluk Meksiko dan Lumpur Lapindo

Rokok Kretek Dongkrak Garis Kemiskinan

Indo”porn”esia?

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s