Jakarta Akan Macet Total 2015!


Jakarta kabarnya akan macet total pada tahun 2015. Ibukota Republik Indonesia yang luasnya 650 km persegi ini sudah terkenal dengan kemacetannya yang luar biasa. Slogan kota Jakarta adalah “Enjoy Jakarta” yang berarti bahwa siapapun Anda yang berkunjung ke Jakarta harus siap menikmati aneka tawaran produknya, rekreasinya, hingga kemacetannya.

Jika ke Jakarta pada masa normal, bukanlah hal yang aneh kalau perjalanan Anda terganggu kemacetan. Keajaiban lalu lintas yang lancar hanya terjadi pada masa mudik Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.

Pembatasan Kepemilikan dan Pembatasan Penggunaan

Kemacetan ini terjadi karena jumlah kendaraan yang terlalu banyak tidak diimbangi dengan luas jalan raya. Pertumbuhan jalan raya di kota Jakarta hanya 401 meter persegi/ tahun, sementara pertumbuhan luas kendaraan mencapai 361 km persegi/ tahun. Pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua sebanyak 800 unit/ hari dan kendaraan roda empat sebanyak 220 unit/hari. Bayangkan bedanya!

Penyebab lainnya adalah kurangnya pengaturan kepemilikan kendaraan pribadi. Menurut Pemda DKI Jakarta, 98 persen dari total kendaraan di Jakarta adalah kendaraan pribadi, sisanya dua persen lagi adalah kendaraan umum (mass transportation). Jumlah keseluruhan kendaraan bermotor di Jakarta kira-kira mencapai 10 juta unit hingga trimester pertama tahun 2010 ini.

Karena kendaraan pribadi ini lebih banyak digunakan oleh warga Jakarta, maka kemacetan pun tidak dapat dihindari. Hal ini diperparah dengan kurang efisiennya penggunaan kendaraan: satu mobil hanya diisi satu orang! Memang Pemda DKI Jakarta sudah menerapkan sistem three-in-one, tetapi tetap saja hal ini tidak berpengaruh signifikan.

“Joki-joki” three-in-one menjadi kesempatan yang digunakan oleh para pengendara kendaraan yang hanya sendirian dalam perjalanan. Mereka umumnya membayar “joki-joki” ini dengan harga Rp.10.000 – Rp.50.000 per orang (maaf kalau Protuslanx salah..tolong dikoreksi).

Kawasan three-in-one tidak semuanya dikategorikan di jalan-jalan protokol. Kawasan three-in-one adalah jalur jalan raya yang hanya boleh dilewati oleh kendaraan roda empat yang berisi minimal 3 orang penumpang. Hal ini menimbulkan masalah baru karena kebanyakan para pengendara kendaraan roda empat menaikkan dan menurunkan “penumpang tambahan” itu di sembarang tempat. Untunglah, sekarang hal seperti itu kini agaknya sudah ditertibkan.

Namun, menurut pakar transportasi, faktor kepemilikan kendaraan bukanlah hal yang harus dibatasi. Yang tepat adalah dengan menerapkan pembatasan penggunaan kendaraan. Artinya, bahwa seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu mobil atau motor, tetapi penggunaannya harus diatur jangan sampai semuanya digunakan dalam satu waktu tertentu.

Apa yang sudah dilakukan Pemda DKI Jakarta?

Kehadiran jalur bus khusus (busway) sebenarnya memberikan dampak positif bagi warga Jakarta. Sebagian besar mendukung program ini untuk terus menambah jalur tetapi di sisi lain tarif transportasinya diturunkan.

Penambahan armada bis yang berbahan bakar gas (BBG) ini memang dianggap perlu. Terlalu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menunggu kedatangan bis selanjutnya di halte-halte adalah buktinya. Bahkan, jalur busway kerap digunakan pengendara kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Solusi monorel yang hingga kini belum jelas kelanjutannya adalah alternatif lain yang perlu benar-benar direalisasikan. Malaysia (kota Putrajaya dan Kuala Lumpur) dan Singapura adalah bukti bahwa ketersediaan monorel mampu mengatasi kemacetan dengan baik. Hanya saja, tiang-tiang yang dibuat untuk jalur monorel itu tampaknya kurang terawat. Entah karena Pemda DKI Jakarta belum matang betul mengenai program itu, atau belum adanya pihak sponsor yang bersedia mendukung dana pembangunannya, ataukah karena APBD belum cukup untuk mendanai proyek tersebut.

Belajar dari Cina

Menunggu monorel benar-benar ada di Jakarta mungkin masih membutuhkan waktu yang lama karena belum ada kepastian. Namun, sistem giliran penggunaan kendaraan yang diberlakukan di Cina mungkin bisa menjadi solusi tambahan yang bisa dipraktekkan Pemda DKI Jakarta.

Di Cina, sistem giliran penggunaan kendaraan itu kira-kira seperti ini (correct me if I’m wrong, right!…):

Hari Senin : khusus mobil dengan plat bernomor terakhir 1 dan 2

Hari Selasa : khusus mobil dengan plat bernomor terakhir 3 dan 4

Hari Rabu : khusus mobil dengan plat bernomor terakhir 5 dan 6

Hari Kamis : khusus mobil dengan plat bernomor terakhir 7 dan 8

Hari Jumat : khusus mobil dengan plat bernomor terakhir 9 dan 0

Hari Sabtu dan Minggu : semua kendaraan boleh digunakan di jalan raya

Trik pemerintah Cina di atas berhasil mengurangi kemacetan sebanyak kira-kira 27 persen. Tujuan pergiliran kendaraan ini adalah untuk membatasi jumlah kendaraan yang melaju di jalan raya setiap harinya. Semoga Pemda DKI Jakarta bisa menerapkan solusi paralel dengan baik tanpa harus bergantung pada satu solusi saja…

Referensi:

Metro TV 751.25 MHz

Bacalah juga:

Berjalan Kaki 21 Hari Demi Keadilan

Indo”beraninya-cuma-sama-rakyat-kecil”nesia

Perbandingan Kasus Teluk Meksiko dan Lumpur Lapindo

Rokok Kretek Dongkrak Garis Kemiskinan

Stop Perpeloncoan!

Indo”porn”esia?

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s