Dunga: Era Tim Besar Telah Berakhir


Protuslanx mendukung Jepang untuk menjadi juara Piala Dunia ke-19 Afrika Selatan 2010 ini. Semoga pertandingan melawan Belanda mendatang mendatangkan semangat pantang menyerah bagi Jepang untuk terus berjuang menjadi yang terbaik.

Munculnya Jepang dan Korea Selatan sebagai wakil Asia yang masih bertahan hingga 16 besar adalah pertanda bahwa kualitas sepakbola Asia tidak kalah dengan kualitas sepakbola Eropa dan Amerika Latin.

Berikut adalah komentar Dunga (pelatih tim nasional Brazil) tentang konstelasi Piala Dunia Afsel ini sebagaimana yang Protuslanx kutip secara penuh dari website Vivanews.

Pelatih Brazil, Carlos Dunga, mengatakan era “tim besar” di jagat persepakbolaan dunia telah berkhir. Dia menanggapi tereliminasinya Italia dari ajang Piala Dunia semalam.

Italia adalah juara Piala Dunia 2006. Sehari sebelumnya, Prancis yang merupakan juara Piala Dunia 1998, telah lebih dulu terdepak setelah kalah dari tim tuan rumah, Afrika Selatan.

Inggris dan Jerman yang lolos ke putaran kedua pun harus bersusah-payah mengamankan posisi mereka di laga terakhir grup masing-masing. Ini belum termasuk Spanyol yang nanti malam harus berjuang habis-habisan agar tak ikut terlempar lebih awal seperti Prancis dan Italia.

Italia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol, selama ini dikenal sebagai tim-tim elit yang disegani. Secara tradisional, mereka mendominasi jagat sepakbola dunia bersama dengan tim-tim Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina.

Namun, menurut Dunga, istilah “tim besar” atau “tim elit” sudah tidak relevan lagi. Saat ini, tim-tim besar tidak bisa lagi hanya datang dan mengharapkan kemenangan jatuh dari langit. Mereka juga tidak bisa meremehkan tim-tim lain yang dianggap relatif lebih kecil.

“Lupakan istilah “tim besar.” Hari-hari di mana tim kuat selalu memenangi pertandingan sudah lama berlalu. Bila tidak bermain baik, maka Anda akan tereliminasi. Jangan lupa, pemain-pemain di tim yang dianggap lebih lama bahkan kini bermain untuk klub-klub terbaik di dunia seperti Barcelona, Real Madrid, atau Chelsea. Mereka telah memperoleh pengalaman dan kemampuan teknik terbaik dari klub-klub elit Eropa itu,” kata Dunga seperti dilansir Soccerway.

Berakhirnya era tim besar, menurut dia, adalah salah satu konsekuensi tak terelakkan dari globalisasi yang juga melanda dunia sepakbola. Seperti dikutip dari ESPNsoccernet, globalisasi berarti pemain-pemain terbaik dari seluruh negara bermain bersama di liga-liga utama Eropa. Dengan demikian, tim-tim nasional di tiap negara akan terasa makin cair, dengan kemampuan rata-rata pemain yang hampir sama.

Dunga sendiri telah mengingatkan tim Samba agar tidak memandang enteng tim manapun di Piala Dunia ini. Ia mengatakan, Brazil dan Argentina memang menghadapi banyak tekanan karena label “tim besar” yang melekat pada mereka. Oleh karena itu, ia berkeyakinan kedua tim Amerika Selatan ini harus berevolusi bila tidak ingin mengalami nasib serupa dengan sebagian rekan-rekannya di Eropa.

Kita lihat saja bagaimana kemajuan tim-tim dari Asia. Semoga bisa mencapai final!…terutama Jepang!

Sumber:

http://www.vivanews.com

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Eksternal-Lanx dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s