Kilas Balik tentang Sistem Apartheid


“Kebebasan bukan semata-mata melepaskan rantai dari tangan seseorang. Kebebasan adalah hidup dengan cara yang saling menghormati dan saling membantu kebebasan orang lain.”
Nelson Mandela, aktivis dan pahlawan anti-apartheid, Presiden Afrika Selatan (1994-1999), peraih Nobel Perdamaian 1993

Protuslanx adalah pengagum berat Nelson Mandela. Beliau adalah pejuang pasifis. Jalan yang ditempuh beliau untuk mengakhiri yang salah dan membangun yang benar di Afrika Selatan adalah perjuangan tanpa kekerasan. Selama 27 tahun (1962-1990) Nelson Mandela dihukum penjara oleh pemerintah incumbent (pemerintah yang berkuasa pada saat itu).

Pasifisme, menurut Protuslanx, adalah wujud perjuangan yang hakiki. Perjuangan sejati bukanlah dengan pedang, bukan dengan konspirasi, bukan dengan propaganda hitam, bukan dengan busur dan panah, bukan dengan senjata dan peluru, bukan dengan racun, dan bukan dengan kemunafikan. Perjuangan yang sejati adalah perjuangan yang murni demi menegakkan kebenaran itu sendiri.

Istilah apartheid berasal dari Bahasa Afrika yang mendapat kata serapan dari Bahasa Inggris, yakni apart (dari kata apart, yang berarti terpisah) dan heid (yang berarti sistem atau hukum). Jadi, kata ini bersinonim dengan keterpisahan atau pemisahan. Istilah ini diciptakan pada tahun 1947.

Apartheid adalah agregasi (pemisahan satu golongan dari golongan lainnya) yang bersifat rasial (berdasarkan ras) yang merupakan kebijakan pemerintah terdahulu dalam bidang politik dan ekonomi terhadap kelompok non-Eropa di Republik Afrika Selatan.

Pada prakteknya diskriminasi rasial ini diberlakukan resmi sejak tahun 1948, namun 2 tahun kemudian barulah dibuat aturan hukumnya yang mengatur tentang sanksi. Apartheid ini dibuat oleh pemerintahan Partai Nasional (National Party) sebagai partai yang incumbent pada masa itu melalui Undang-Undang Pendaftaran Penduduk (Population Registration Act) tahun 1950. Sejak tahun 1960-an, istilah apartheid sering diganti dengan istilah  “pembangunan terpisah (separate development)“. Kemudian, 46 tahun kemudian, pada 1994, sistem politik dan ekonomi ini dihapuskan.

Sistem apartheid sebenarnya sudah berlangsung selama ratusan tahun di Afrika Selatan di mana kalangan kulit berwarna, terutama kalangan kulit hitam, mengalami perendahan martabat manusia yang dilakukan oleh kalangan kulit putih. Menurut undang-undang tersebut, warga negara Afrika Selatan dikelompokkan menjadi golongan Bantu (semua penduduk kulit hitam Afrika), golongan kulit berwarna (termasuk ras campuran), golongan kulit putih, dan golongan Asia (India dan Pakistan).

Pada saat itu, selama 46 tahun terjadi pemisahan tempat tinggal berdasarkan ras. Hal yang paling mengerikan adalah penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap kalangan penduduk kulit hitam yang tidak sesuai aturan hukum yang seharusnya. Bahkan, polisi-polisi pada saat itu turut ambil bagian kejahatan tanpa peduli apakah mereka anak-anak, wanita, atau orang tua.

Bagaimana Sebenarnya Cara Mandela Menyatukan Afrika Selatan?

Mandela merayakan kemenangan piala dunia rugby 1995 (http://www.ezakwantu.com)

Jawabannya adalah dengan cara membuat tim nasional olahraga rugby yang terdiri dari kalangan kulit putih dan kulit hitam, lalu mempersiapkannya untuk mengikuti piala dunia. Secara politis, bisa disebut ini namanya “diplomasi rugby“!

Inilah keunikan cara Nelson Mandela untuk menyatukan bangsanya: ikut Piala Dunia Rugby 1995! Ide ini sebenarnya telah beliau pikirkan sejak ia masih dipenjara. Bagi kalangan kulit hitam, olahraga rugby adalah simbol kebencian terhadap apartheid. Bagi kalangan kulit putih, rugby adalah hobi dan olahraga yang digemari. Namun, Mandela berhasil menyatukan mereka semua dalam satu tim nasional rugby, Springboks.

Mandela sendiri sebenarnya tidak menggemari rugby, namun ide dan adanya pertandingan Piala Dunia Rugby 1995 mengubah pandangannya tentang olahraga kulit putih itu. Selama tahun 1950-an, Mandela adalah petinju amatir, olahraga favorit beliau. Sebelum menjadi pengacara, beliau menghabiskan waktu selama dua jam untuk berlari bolak-balik dari Soweto ke Johannesburg menjelang fajar.

Selama dipenjara, Mandela banyak menghabiskan waktu berlari-lari di selnya, push-up, dan melatih kekuatan perut dengan tekun. Ketika menjadi presiden (umur 75 – 80 tahun) Mandela sering menguji ketabahan para pengawal pribadinya dengan berjalan cepat pagi-pagi sekali menjelang fajar selama satu jam!

Tim Springboks 1995 (http://cdn.bleacherreport.com)

Tim nasional rugby bentukan Mandela, Springboks, sebetulnya hanya terdiri satu orang kulit hitam di antara 15 pemain lainnya. Ia merekrut para pemain bintang berkulit putih, lalu membujuk mereka agar mau mempelajari lagu kebangsaan baru (yang diambil dari lagu unjuk rasa protes kalangan kulit hitam terhadap apartheid).

Tahun 1995 pun menjadi momen yang sangat berpengaruh bagi lahirnya sebuah bangsa baru, Afrika Selatan. Tim Springboks berhasil mengalahkan Prancis, Australia, dan akhirnya mencapai final dengan mengalahkan Selandia Baru di Ellis Park Stadium, kota Johannesburg.

Namun, momen terbaik pada hari itu adalah sebelum pertandingan dimulai, ketika Mandela pergi menuju lapangan pertandingan, di hadapan 65.000 penonton yang 95% di antaranya kalangan kulit putih, menggunakan kaos Springbok hijau, simbol lama penindasan, para sipir apartheid yang ia cintai. Hingar-bingar pun pecah menjadi nyanyian yang semakin nyaring, “Nelson! Nelson! Nelson!”

Satu setengah jam kemudian, setelah tujuh menit yang mendebarkan, Springboks memenangkan pertandingan. Dan kemudian, ketika Mandela berjalan ke dalam lapangan pertandingan untuk menyerahkan trofi kepada kapten tim Afrika Selatan, nyanyian itu semakin keras terdengar kembali, “Nelson! Nelson!”, kali ini dengan air mata.

Seluruh negeri itu, hitam dan putih, bernyanyi dan menari dalam malam, bersatu pertama kalinya dalam sejarah oleh satu alasan, sebuah perayaan meluapkan diri. Tidak ada perang sipil, tidak ada terorisme sayap kanan, dan Mandela mencapai tujuan hidupnya dengan mewujudkan apa yang hingga kini masih ada, dan apa yang terlihat hampir mustahil: demokrasi multirasial yang kukuh.

Hakikat Kemanusiaan

Protuslanx berpandangan bahwa sejarah adalah tempat kita belajar dari masa lalu. Belajar dari masa lalu membuat kita lebih mengerti tentang kemanusiaan kita sendiri. Bahwa kemanusiaan adalah lebih penting ketimbang kepentingan kita masing-masing. Seandainya semua manusia di belahan dunia manapun menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari manusia-manusia lainnya, niscaya perbedaan suku, agama, ras, dan golongan tidak akan menjadi faktor pemicu ketidak-berperikemanusiaan kita terhadap sesama kita.

Di manakah letak ketidakberperikemanusiaan kita?
Letaknya adalah tindakan menggunakan hati (bukan liver!, red), pikiran, dan tubuh untuk menyakiti, membunuh, menyiksa, memperbudak, memperbodoh, merebut hak asasi manusia lainnya, dan lain-lain.

Di manakah letak kemanusiaan kita?
Letaknya adalah tindakan menggunakan hati (bukan liver juga!, red), pikiran, dan tubuh untuk menjadi pemain sepakbola dengan baik, menjadi fans yang sopan, menciptakan teknologi untuk hemat bahan bakar, meneliti jagat raya untuk ilmu pengetahuan, membuat media yang memberi inspirasi bagi banyak orang untuk tetap semangat menjalani hidup, menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang yang menganggur, menyelamatkan masa kecil anak-anak yang putus sekolah atau bahkan tidak pernah sekolah, membiasakan diri kita untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyakiti flora dan fauna di sekitar kita, dan lain-lain.

Protuslanx berharap semoga sistem apartheid ini tidak pernah terjadi lagi dalam bentuk apapun. Bumi ini adalah planet tempat kita tinggal bersama-sama. Daripada menghabiskan waktu, tenaga, kecerdasan, dan semua sumber daya kita untuk hal-hal yang tidak berperikemanusiaan, maka lebih kita menyalurkan waktu, tenaga, kecerdasan, dan semua sumber daya kita untuk hal-hal yang meningkatkan kemanusiaan kita.

Perdamaian dengan semua ras di dunia ini adalah sangat indah. Mari kita menyambut penyelenggaraan Piala Dunia ke-19 ini dengan penuh persaudaraan semua umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, etnis, agama, dan asal kewarganegaraan. Peace out!🙂

Referensi:

Merriam Webster Dictionary

Enyclopaedia Britannica Ultimate Reference Suite

http://www.kompas.com

http://sportsillustrated.cnn.com/vault

http://id.wikipedia.org/wiki

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s