Kitab Injil Matius 5:1-12 : Khotbah di Bukit


Injil Matius Pasal 5 ini sangat universal. Protuslanx sangat menyukai pasal ini. Ya, mungkin inilah dasar janji-janji Sang Pencipta yang datang dalam rupa alter ego dengan ras manusia pada 2010 tahun yang lalu.

(1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

(2) Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

(3) Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

(4) Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

(5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

(7) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

(8) Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

(9) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

(10) Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

(11) Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

(12) Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

JCBU…

Bacalah juga:

Mazmur 19:1-14 tentang Kemuliaan Tuhan dalam Pekerjaan Tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya

Injil Matius 15:11-20 tentang Halal dan Haram yang Sebenarnya

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Pos ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

10 Balasan ke Kitab Injil Matius 5:1-12 : Khotbah di Bukit

  1. Anonim berkata:

    apa arti dari masing- masing ayat yang terdapat dari matius 5: 1-12 ini?

    • protuslanx berkata:

      Protuslanx mencoba untuk menjelaskan masing-masing ayat ini sesuai pemahaman pribadi. Maaf kalau baru dijawab sekarang dan isinya kepanjangan. Harap maklum🙂
      Memahami Alkitab secara literal tidaklah selalu tepat, interpretasi lah yang seringkali digunakan. Kalimat majemuk (kausalitas) dalam ayat-ayat ini menggunakan pola yang bisa juga ditemukan di kitab lain seperti Mazmur dan Amsal. Menurut Protuslanx makna kata-kata Yesus yang ditulis oleh Rasul Matius tersebut adalah:

      (3) Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga, artinya: Miskin di hadapan Allah bukanlah karena kekurangan uang atau harta benda. Miskin juga berarti tidak memiliki kebahagiaan (miskin kebahagiaan), egois (miskin kepedulian sosial), tidak mahir (miskin pengalaman), dll. Di hadapan Allah, seorang manusia pasti tidak ada apa2 nya dibandingkan dengan kuasa-Nya. Di sini Ia menuntun umat manusia supaya, atas dasar kesadaran lebih berkuasanya Allah itu, menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Termasuk pada saat kita membutuhkan kekuatan demi kebahagiaan, atau membutuhkan hubungan yang baik dengan siapapun untuk berbagi dan peduli, atau membutuhkan tuntunannya ketika manusia merasa kuatir mengenai sesuatu karena merasa kurang mampu dan percaya diri, dll. Miskin dihadapan Allah juga berarti bahwa segalanya harus kita berikan untuk Dia, kendati kita sendiri merasa kekurangan (ingat perumpamaan Yesus tentang persembahan janda miskin). Dihadapan Allah bukanlah jumlah materi yang bisa manusia berikan atau miliki, tetapi nilai pemberian itu sendiri (keikhlasan dan kebahagiaan karena memberi).

      (4) Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur, artinya: Allah tidak berarti menyuruh kita untuk berdukacita ketimbang hal-hal yang membahagiakan. Ini adalah pesan semangat bagi umat manusia untuk selalu ingat bahwa setiap manusia yang mengalami dukacita karena tekanan dunia (misalnya stress karena pekerjaan, ditinggal orang yang dikasihi, atau menderita ketidakadilan, dll). Allah akan selalu ada untuk manusia yang berharap pada-Nya. Tuhan sendiri yang akan menjadi penghibur manusia pada waktu yang Ia tetapkan. Jadi, manusia sebaiknya tidak meninggalkan Dia tetapi justru harus berserah pada-Nya, bukan ke dukun sakti atau minta jimat untuk menjadi orang yang “kebal dukacita”. Karena tidak ada penderitaan yang melebihi kekuatan setiap orang, Allah meyakinkan manusia: “Tetaplah kuat ketika Engkau berdukacita, karena Aku yang akan menghiburmu melebihi segala dukacitamu”. Ingat kisah tentang Ayub yang diberkati Allah 7x lipat karena setelah melewati berbagai ujian berat, ia tidak sedikitpun mengutuk Allah.

      (5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi, artinya: bumi adalah lambang segala sesuatu yang kita inginkan secara lahiriah (prestasi, kesuksesan karir
      dan bisnis, keluarga yang ideal, pasangan hidup yang baik, dll). Untuk memperoleh semua itu, Allah memberi pesan kepada manusia tentang cara ideal yang dikehendaki-Nya: lemah lembut. Tentang ayat ini Protuslanx jadi ingat tentang perumpaaman Pdt. Dr. Stephen Tong: “menjadi Kristiani, harus kuat di dalam tetapi LEMBUT DILUAR” bahwa kita harus tegas dan teguh terhadap diri kita sendiri (belajar keras, bekerja keras, atau disiplin diri yang konsisten untuk tujuan yang baik) namun harus lemah lembut terhadap sesama (tidak sok jagoan, tidak suka perintah sana-sini tanpa etika, bicara kasar, tatakrama rendah, dll).

      (6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan, artinya: Allah menghendaki manusia supaya mencari kebenaran. Apa itu kebenaran? Kebenaran akan tindakan, pemikiran, dan ucapan kita yang sesuai dengan firman-Nya dan kebenaran untuk hidup demi Allah (bukan demi egoisme pribadi) karena kebenaran itu adalah Allah sendiri. Ini sih, sinkron sama moto hidup pribadi Protuslanx: “Jangan lakukan yang baik, tetapi lakukanlah yang benar!”. ‘Benar’ versi Allah, bukan “benar” versi manusia. Ayat ini juga berarti bahwa manusia harus berjuang untuk membela yang benar. Menurut Protuslanx, dalam hal ini Allah juga mendorong manusia untuk meneliti segala sesuatu termasuk seni, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan umat manusia.

      (7) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan, artinya: bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan berasal dari apa yang kita berikan. Disini berlaku hukum tabur tuai. Allah memberi pesan kepada manusia untuk memberikan apa yang dimiliki demi orang lain yang membutuhkan. Disini kemurahan hati adalah kunci untuk memberi kepada sesama yang membutuhkan. Lagipula apa yang dimiliki setiap orang (keberhasilan, prestasi, kekayaan) bukanlah karena kehebatan manusia itu sendiri tetapi justru karena kemurahan Allah. Karena Allah telah bermurah hati kepada kita (jaminan keselamatan melalui penebusan dosa melalui momentum penyaliban di kayu salib pada tahun 33 kalender matahari/ Gregorian, hingga berkat untuk keberhasilan dalam hidup setiap umat percaya). Protuslanx jadi paham mengapa semakin kaya seseorang, semakin tinggi pula kedermawanannya. Sebut saja (bukan iklan!) orang-orang seperti Bill Gates, Warren Buffet, Alfred Bernhard Nobel, Jet Lee, dll yang justru selain sibuk dengan bisnis dan pekerjaan mereka, juga sibuk mengurus yayasan untuk memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa untuk kemajuan umat manusia hingga membantu mereka yang sulit memperoleh akses kesehatan dan keterbelakangan.

      (8) Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah, artinya: akan melihat Allah berarti mengalami perjumpaan dengan Allah baik dalam kehidupan sehari-hari hingga waktunya “pertemuan di surga”. Allah adalah gambaran segala sesuatu yang baik. Jadi, supaya hidup manusia melihat kebaikan itu dalam diri setiap orang maka terlebih dahulu seseorang itu haruslah memiliki kesucian hati. Menurut Protuslanx, kesucian hati ibarat kacamata optis, supaya bisa melihat dengan baik maka terlebih dahulu lensa kacamata itu haruslah bersih dari debu dan noda. Itulah sebabnya, mengapa ada ungkapan “ada Allah (Tuhan) dalam diri setiap orang”. Allah sebetulnya bisa menjadi siapa saja yang ia inginkan ketika “mengecek manusia ciptaan-Nya”, tetapi itu rahasia Allah sendiri. Protuslanx jadi ingat film Bruce Almighty atau lagunya Joan Osborne: One of Us. Kita tidak tahu kapan Ia muncul setiap saat dalam rupa demikian (kecuali pada 2000 tahun yang lalu yang sebetulnya merupakan momen terbesar bagi umat manusia yang hidup pada saat itu). Tetapi bukan itulah intinya. Intinya adalah manusia hidup bukan karena takut masuk neraka dan ingin masuk surga, tetapi Allah ingin agar manusia selalu memperlakukan keluarga, lingkaran pertemanan, hingga orang lain yang tidak dikenal dalam hidupnya seolah-olah terhadap Allah sendiri, Dia sendiri. Sehingga setiap orang yang menyadari setiap perbuatan demi orang lain yang membutuhkan akan berkata: “Saya melakukan kebenaran demi kebaikan itu bukan semata untuk kamu, tetapi terutama untuk Allah”. Menurut Protuslanx itulah sebabnya kenapa setiap pemain bola berhasil membuat gol selalu mengangkat jari tangannya ke atas seolah-olah berkata: “this is for the glory of the Lord!”.

      (9) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah, artinya: Dalam Kristianitas, hubungan antara Allah dengan manusia selalu ditegaskan Yesus sebagai hubungan antara seorang ayah dan anak-anaknya (bukan sebagai hubungan antara seorang majikan dengan hamba-hambanya). Sedekat itulah hubungan yang ingin Allah jalin dengan umat manusia. Itulah sebabnya ketika Ia datang ke planet Bumi ini dalam wujud inkarnasi manusia bernama Yesus Kristus (terjemahan dalam bahasa Indonesia) muncul panggilan terhadap Allah yang belum pernah digunakan sebelumnya: Bapa (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan tanpa akhiran huruf k). Allah ingin agar seluruh umat manusia (berbagai ras, suku, pekerjaan, status sosial, berbagai identitas individu dan kolektif) hidup rukun satu sama lain dalam damai sebagaimana satu keluarga dibawah pimpinan Allah sendiri sebagaimana satu keluarga.

      (10) Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga, artinya: Segala sesuatu yang diperbuat manusia hendaknya atas dasar kebenaran sebagaimana kebenaran itu adalah demi dan Allah sendiri (kebenaran = Allah). Kata yang digunakan dalam ayat ini adalah bentuk pasif “dianiaya”, bukan bentuk aktif “menganiaya”. Jadi, biarlah orang lain berbuat jahat dan menganiaya kita, sepanjang yang kita lakukan di dunia ini adalah perbuatan benar dalam perspektif Allah. Sekalipun sangat sulit, kehidupan hanyalah lebih berarti ketika dimaknai dengan perbuatan-perbuatan benar yang kita lakukan sepanjang kita masih “menumpang” di planet Bumi ini. Kenapa demikian? Karena “tabungan” perbuatan baik kita itu akan menjadi penilaian tersendiri bagi Allah terhadap siapapun yang layak menjadi bagian dalam Kerajaan Sorga, yaitu segala bentuk kehidupan abadi yang baik setelah kematian dimana tidak ada lagi kesedihan, penderitaan, kesusahan, dll yang ada hanya kebahagiaan dimana Allah sendiri yang menjadi penyedia segala yang kita harapkan dan perlukan “disana”.

      Terimakasih. Semoga menyejukkan hati🙂

  2. priyani berkata:

    terima kasih atas khotbah nya
    semoga tuhan memberkati mu amin

  3. wulandari berkata:

    apakah arti dari khotbah diatas

  4. Saikum Siregar berkata:

    terima kasih atas share Firman ini, Tuhan memberkatimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s