Jalur Sepeda Kota Bandung, Quo Vadis?


Jalur sepeda yang melalui area kantor dinas Walikota Bandung di Jalan Merdeka.

Ada yang sedikit kelihatan aneh sekitar bulan Agustus/ September 2010 yang lalu. Seperlima ruas jalan-jalan protokol dicat dengan warna biru. Rupanya itu adalah marka jalan sebagai tanda jalur khusus sepeda. Unik juga! Apa mungkin kota Bandung yang pertamakali membuat “jalur biru” ini?

Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung pada tahun 2010 ini membuat 4 paket jalur sepeda yaitu: Jl. Diponegoro – Simpang Dago, Jalan Sulanjana – Jalan Ganesha, jalur Jalan Dago (depan kantor Dinas Perkebunan Jabar) – Jalan Siliwangi, dan jalur Braga – Balai Kota – Gedung Sate. Secara keseluruhan jalur sepeda ini panjangnya 8.128 meter dengan dana anggaran 2,5 miliar rupiah.

Sepi Pesepeda (Tidak Efektif)

Jalur sepeda yang sepi pesepeda (Jalan Merdeka).

Proyek jalur khusus sepeda itu memang sudah selesai. Cuma, ada yang kurang. Protuslanx sering melalui Jalan Merdeka yang termasuk dalam rangkaian paket jalur khusus sepeda, namun jarang sekali ada pesepeda yang melintasi jalur itu. Tidak hanya pada pagi hari, pada sore haripun tidak ada pesepeda yang memanfaatkan “jalur biru”. Jalur itu seringkali sepi pesepeda! Dan kini, cat biru itu sudah banyak yang pudar!

Protuslanx sebenarnya sangat mendukung proyek jalur khusus sepeda yang diprogramkan Pemerintah Kota Bandung. Apalagi hal tersebut “klop” dengan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals – MDGs) ke-7 tentang Kelestarian Lingkungan yang diprogramkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yap!

Namun, faktanya program itu tidak mendapat antusiasme warga kota Bandung. Ataukah Pemkot Bandung perlu mengadakan acara yang melibatkan publik secara luas untuk menandai bahwa jalur sepeda telah resmi digunakan? Protuslanx sendiri lebih memilih berjalan kaki karena jarak antara tempat tinggal ke kampus hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja. Sementara, warga kota Bandung sendiri lebih memilih motor ketimbang sepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Parahnya lagi, jumlah motor di kota Bandung semakin bertambah pembelian dan penggunaannya! Motorlah yang menjadi “raja jalanan” saat ini! Jadi, sepertinya sepeda tetap terabaikan sebagai alternatif kendaraan sehari-hari.

Pesepeda Kurang Dihargai

Jalan Merdeka didominasi kendaraan bermotor termasuk di jalur khusus sepeda.

Tapi, ya kalau dipikir-pikir, apa mungkin perlu beli sepeda? Masalahnya, Protuslanx sering melihat tingkah laku para pengendara mobil (terutama supir angkot) dan motor yang kurang menghargai para pesepeda. Kalau ada pesepeda, sedikit-sedikit klakson…sedikit-sedikit klakson…lalu dibentak: “Oi! Mengganggu Saja! (perjalanan)”. Begitulah pengalaman pribadi Protuslanx ketika naik angkutan perkotaan alias angkot! Jadi, ya, semoga saja kesadaran warga kota Bandung untuk “go green” bisa dimulai secara bertahap.

Anggapan remeh terhadap sepeda juga kiranya bisa terkikis, karena justru di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Italia, Belanda, dan lain-lain, berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan kendaraan umum justru lebih dominan ketimbang penggunaan sepeda motor dan mobil pribadi.

Sumber:

http://www.detik.com

http://www.kompas.com

http://www.tempointeraktif.com

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Tulisan ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s