Dampak Negatif Akibat Eksistensi Pangkalan Militer AS di Okinawa (Jepang)


Selama terjadinya Perang Dunia II, Okinawa adalah satu-satunya pangkalan militer Jepang. Amerika Serikat menyebut perang dengan Jepang di pulau itu sebagai perang “ Iron Storm(badai besi)” yang berlangsung selama 80 hari sejak bulan Maret 1945. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, 10.000 pasukan tewas dari pihak Amerika Serikat, dan sekitar 90.000 pasukan tewas dari pihak Jepang. Inilah perang yang patut dicatat sebagai perang yang luar biasa dari segi jumlah korban tewas dari masyarakat sipil yang menjadi sasaran, yaitu sebanyak 100.000 orang (sepertiga dari populasi Okinawa pada saat itu).

Kemudian pada tahun 1951 diadakan Perjanjian Perdamaian San Fransisco yang menempatkan Okinawa di bawah pemerintahan militer Amerika Serikat hingga tahun 1972 kelak ketika pemerintahan Okinawa dikembalikan kepada Jepang. Maka, sejak tahun inilah Amerika Serikat terus membangun pangkalan militernya di Jepang.

Mengapa isu Okinawa ini menjadi penting? Sebagaimana diungkapkan oleh Gubernur Okinawa Keiichi Inamine pada tahun 2005, Okinawa menghadapi keganjilan jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di Jepang, yakni:

  1. Selama 27 tahun setelah perang berakhir hanya Okinawa yang berada di dalam kontrol Amerika Serikat. Manakala wilayah-wilayah lainnya di Jepang menikmati pertumbuhan ekonomi yang cepat, masyarakat Okinawa justru merasa bahwa mereka telah tertinggal jauh dalam hal ekonomi. Pulau yang luasnya hanya 0,6 persen dari luas wilayah Jepang ini harus menanggung 75 persen pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Jepang.
  2. Sebagian besar pangkalan-pangkalan militer yang berada di Okinawa dibangun di atas tanah milik warga setempat, sedangkan pangkalan-pangkalan militer di prefektur lainnya dibangun di atas tanah milik publik.

Secara empirik, eksistensi pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan permukiman padat penduduk berpengaruh negatif terhadap keselamatan warga sipil dari kecelakaan, keselamatan warga sipil dari kriminalitas, dan ketentraman hidup yang jauh dari kebisingan.

Fasilitas-fasilitas Amerika Serikat meliputi 20 persen dari keseluruhan pulau itu dan lebih padat lagi di bagian tengah wilayah itu. Faktanya, militer Amerika Serikat menempati lebih dari 40 persen daerah yang dipenuhi oleh enam lingkungan masyarakat, yakni: 82,8 persen di kota Kadena, 59,8 persen di kota Kin, 56,4 persen di kota Chatan, 51,5 persen di desa Ginoza, 46,9 persen di desa Yomitan, dan 41,5 persen di desa Higashi.

Selain itu jalan, jalan, rumah-rumah, sekolah-sekolah dan bisnis-bisnis olahraga seperti lapangan golf, lapangan tenis, dan banyak area terbuka hijau  seluruhnya digunakan untuk kepentingan militer. Tambahan lagi, Amerika Serikat mengontrol 29 wilayah lautan dan 15 wilayah udara. Dua dari tiga bandar udara dijalankan oleh Amerika Serikat.

Masalah Kecelakaan Militer yang Menimpa Penduduk Sipil

Pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa yang berukuran besar itu terletak di area yang penuh dengan rumah-rumah penduduk, sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit. Jika dilihat pada peta ada banyak kluster pangkalan militer yang berlokasi di sisi dalam pulau Okinawa. Dengan demikian, kemungkinan seringnya terjadi kecelakaan selalu menghantui penduduk di sekitar pangkalan militer, bahkan terjadi hampir setiap hari.

Kecelakaan-kecelakaan militer yang biasa yang terjadi misalnya adalah pada tahun 2000 terjadi kecelakaan helikopter yang menghantam pembangkit tenaga listrik dan terbakarnya sebuah pesawat Harrier akibat gagal lepas landas.

Kecelakaan ini memang merupakan masalah biasa yang berulang kali terjadi di kalangan angkatan bersenjata di negara manapun. Yang menjadi masalah krusial adalah ketika kecelakaan itu menimpa penduduk sipil. Di Okinawa, adanya sekolah-sekolah dan rumah-rumah warga yang jaraknya hanya beberapa meter dari landasan terbang bisa menyebabkan kesalahan berakhir pada malapetaka besar.

Kecelakaan-kecelakaan militer yang menimpa warga Okinawa antara lain:

  • Tahun 1965: latihan terjun payung yang diadakan di Pulau Yomitan dan Iejima menyebabkan sebuah trailer jatuh dari pesawat transport yang menghantam seorang anak perempuan kelas V sekolah dasar hingga tewas.
  • Tahun 1959: kecelakaan pesawat jet dari pangkalan udara Kadena menghantam dan menyebabkan kebakaran pada sebuah sekolah dasar, 17 rumah, dan sebuah pusat komunitas. Ditemukan 11 orang anak hangus terbakar, 6 orang tewas, dan 210 orang luka-luka.

Sekolah-sekolah pun kemudian melakukan simulasi kebakaran untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lagi. Walaupun demikian, seiring dengan semakin bertambahnya penduduk, maka semakin padat pula permukiman. Gedung-gedung sekolah dan rumah-rumah semakin banyak dibangun. Dengan demikian, peluang dari upaya prajurit Amerika Serikat untuk menghindari terjadinya kemungkinan warga sebagai korban akan semakin sia-sia. Keselamatan warga Okinawa akan terus semakin terancam.

Masalah Kriminalitas Prajurit Amerika Serikat

Sejak tahun 1972 angka kriminalitas yang dilakukan oleh prajurit Amerika Serikat mencapai sebanyak 5000 kasus. Lebih dari 10 persen dari angka itu adalah kejahatan yang sangat kejam seperti pembunuhan, perampokan, dan pemerkosaan. Seperti diketahui, tahun tersebut adalah tahun penyerahan kembali Okinawa dari pihak Amerika Serikat kepada Jepang.

Namun, angka-angka itu hanyalah sejumlah kasus yang berada dalam penanganan kepolisian Okinawa. Masih ada kasus-kasus lain yang tidak terhitung dalam statistik itu seperti halnya kasus-kasus dimana korban tidak teridentifikasi atau korban memutuskan untuk tidak mengkonfrontir oknum pelaku kejahatan.

Masalah kriminalitas yang dilakukan oleh prajurit Amerika Serikat ini antara lain:

  • Tahun 1972: seorang perempuan diperkosa dan dibunuh.
  • Tahun 1974: seorang pemuda yang bekerja sebagai tukang potong rumput ditembak dan terluka di Pulau Iejima.
  • Tahun 1995: seorang wanita dipukul hingga tewas di kota Ginowan.
  • Tahun 1995: penculikan dan pemerkosaan terhadap seorang anak perempuan yang masih sekolah yang dilakukan oleh tiga orang prajurit Amerika Serikat. Permintaan kepolisian Jepang setempat untuk menangani ketiga pelaku ditolak oleh Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Insiden ini menimbulkan kemarahan warga dengan melakukan demonstrasi massa dengan dukungan sebanyak 92.000 orang. Tuntutan revisi Status of Forces Agreement (SOFA), penindakan kriminalitas prajurit Amerika Serikat, dan pengaturan ulang serta pengurangan pangkalan ditolak oleh pihak Amerika Serikat.
  • Kecelakaan yang menewaskan seorang ibu dan kedua anaknya di dalam sebuah mobil.
  • Kecelakaan tabrak-lari yang menewaskan seorang anak perempuan sekolah menengah atas.

Dalam sebuah survai surat kabar Amerika Serikat, Dayton Daily News, yang diterbitkan pada tahun 1995 diketahui bahwa pangkalan militer Amerika Serikat berada pada tingkat teratas dalam hal kejahatan seksual yang dilakukan oleh personil militer Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat.

Warga Okinawa dipaksa untuk tinggal di dalam bahaya kemungkinan akan kejahatan yang dilakukan oleh prajurit-prajurit Amerika Serikat bahkan dalam perjalanan mereka menuju dan dari sekolah dan di rumah. Di sejumlah sekolah, para guru menghimbau para murid untuk menghindari jalan-jalan di dekat pangkalan-pangkalan militer sekalipun terdapat jalan pintas.

Masalah Polusi Suara

Sekitar 470.000 warga (37 persen dari penduduk Okinawa) merasa terganggu dengan adanya kegaduhan kegiatan-kegiatan militer di pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat. Secara umum, polusi suara dapat ditangani dengan beberapa cara seperti rumah-rumah kedap suara. Namun, di kawasan permukiman yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari landasan terbang menyebabkan polusi suara begitu berdampak buruk sehingga penggunaan teknologi kedap suara menjadi tidak berfungsi.

Beberapa gangguan akibat polusi suara ini antara lain:

  • Tahun 1995: Penduduk di sekitar pangkalan militer tidak dapat tidur dengan tenang pada malam hari. Menurut sebuah penelitian di sebuah area dekat Pangkalan Udara Futenma Amerika Serikat diketahui bahwa kebisingan terjadi sebanyak 2.244 kali selama sebulan, dan 595 kali (26 persen) terjadi antara pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi setiap harinya.
  • Tahun 1996: pada setiap pagi hari, Sekolah Dasar Yara Primary yang terletak 800 meter dari landasan terbang Pangkalan Udara Kadena terganggu dengan kebisingan yang terus-menerus selama lebih dari 5 detik. Sehingga, dalam 1 jam rata-rata kegiatan belajar mengajar di kelas terganggu sebanyak 10 kali.
  • Tahun 1999: laporan penelitian selama 4 tahun yang dilakukan oleh para dokter (disponsori pemerintah administratif Okinawa) menyimpulkan bahwa kebisingan berefek pada meningkatnya penyimpangan perilaku di antara bayi-bayi, kelahiran berbobot rendah (prematur), dan pendengaran yang lemah.

Pada tahun 1982, penduduk dari enam kota dan desa, termasuk diantaranya adalah warga kota Okinawa dan kota Kadena, mengajukan tuntutan ke pengadilan untuk melarang penerbangan di antara jam 7 malam sampai jam 7 pagi. Namun, hakim menolak tuntutan itu dengan bersandar pada doktrin “kekebalan kedaulatan.

Gangguan Pembangunan Ekonomi Regional

Pembangunan ekonomi regional di Okinawa terhalangi dengan adanya pangkalan militer Amerika Serikat yang terletak di bagian tengah kota-kota Okinawa. Contohnya, keberadaan Pangkalan Udara Futenma Korps Marinir meliputi seperempat dari keseluruhan area kota Ginowan, dan terutama, letaknya berada di pusat kota. Jalan-jalan, saluran air, dan saluran pembuangan harus dibuat dengan jalan memutar untuk menghindari pangkalan udara. Inilah faktor penghambat utama bagi peningkatan infrastruktur kota itu.

Untuk menghindari ketidaknyamanan terhadap pesawat-pesawat yang mendatangi pangkalan udara, maka tinggi bangunan-bangunan di sekitar pangkalan itu terpaksa dibatasi, sehingga pembangunan kembali yang diprogramkan oleh kota Ginowan tidak dapat dijalankan.

Dalam beberapa kasus, sebuah rumah apartemen yang baru dibangun telah dihancurkan hanya karena teridentifikasi bahwa bangunan itu menghalangi penerbangan-penerbangan pesawat Amerika Serikat.

Kota Chatan menjadi tempat dibangunnya pangkalan militer yang luas seperti halnya Pangkalan Udara Kadena, Barak Kuwae, atau Barak Zukeran yang mencakup 56 persen dari wilayah kota itu.

Hal ini menyebabkan kota Chatan menjadi sulit membangun fasilitas-fasilitas publik hanya karena kekurangan ruang. Dalam beberapa kasus, sekolah-sekolah dasar dan taman kanak-kanak harus dibangun di kota-kota tetangga. Apabila situs pangkalan Amerika Serikat itu dikembalikan seluruhnya kepada kota Chatan maka situs-situs itu dapat dijadikan sebagai tempat fasilitas publik dan rumah-rumah. Tetapi karena bukan ini keadaannya, maka kota Chatan tidak memiliki pilihan lain selain mendapatkan lahan melalui reklamasi wilayah perairan dengan biaya yang sangat besar.

Jalur-jalur kereta api Okinawa mengalami kehancuran ketika Perang Okinawa terjadi pada akhir Perang Dunia II. Setelah berakhirnya perang, Pasukan Amerika Serikat mengambil alih dan menutup jalur-jalur kereta api agar dapat membangun pangkalan-pangkalan militer. Keberadaan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat telah menjadi penghalang dibangunnya jalur-jalur kereta api yang menghubungkan bagian utara dan bagian selatan. Akibatnya, Okinawa hingga kini masih tidak memiliki jasa angkutan kereta api.

Di sejumlah tempat seperti desa Onna dan kota Kin, sumber persediaan air berada persis di pangkalan militer Amerika Serikat. Daerah-daerah ini harus meminta ijin dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat bahkan untuk membersihkan mata air.

Masalah Kontrol Lalu-Lintas Udara

Penggunaan wilayah udara di Okinawa oleh militer Amerika Serikat menjangkau 40 kali area daratannya. Ketinggian terbangnya adalah 6.000 meter yang seluruhnya dikontrol oleh militer Amerika Serikat. Bukan hanya pesawat-pesawat yang menggunakan pangkalan militer Amerika Serikat, tetapi juga penerbangan komersial yang memasuki Bandar Udara Naha harus meminta ijin dari Pangkalan Udara Kadena Amerika Serikat. Buruknya lagi, pesawat-pesawat komersial Jepang harus menurunkan ketinggian terbangnya pada level 300 meter karena harus memberikan prioritas pada pesawat-pesawat militer Amerika Serikat yang mendarat dan lepas landas di Pangkalan Udara Kadena. Inilah fakta empirik bahwa tidak ada satupun negara di dunia, selain Jepang, yang memberikan kontrol wilayah udaranya kepada kekuatan militer asing 

Masalah Polusi Lingkungan

Masalah polisi lingkungan ini terjadi karena tidak adanya kewenangan hukum Jepang untuk melakukan tindakan. Dalam hal ini hanya pihak militer Amerika Serikat yang semata-mata memiliki memiliki hak-hak eksklusif sehingga tidak dapat tersentuh hukum manapun. Hukum Amerika Serikat dan hukum Jepang tidak berlaku untuk pangkalan-pangkalan militer ini, sehingga tidak ada jaminan perlindungan terhadap lingkungan wilayah Jepang.

Beberapa masalah lingkungan ini adalah sebagai berikut:

  • Di Barak Hansen, latihan kebakaran yang sering menggunakan area pegunungan menyebabkan meluasnya kebakaran ke area lain, lahan-lahan menjadi tandus dan tidak hijau lagi.
  • Akibat lahan-lahan menjadi tandus terjadi longsor tanah liat dari pegunungan ke arah teluk Kin sehingga mencemari terumbu karang.
  • Pencemaran akibat pembuangan lumpur seberat 20 tahun yang mengandung racun PCB (polychlorinated biphenyl).
  • Ditemukannya pencemaran hexavalent chromium di situs bekas tempat penyimpanan amunisi.
  • Penumpukan limbah uranium.

Sesuai dengan ketentuan dalam Status of Forces Agreement (SOFA) maka Amerika Serikat tidak bertanggung jawab terhadap pencemaran darat dan laut yang ditimbulkan. Anehnya lagi, pemerintah Jepang sendiri tidak memberikan informasi tentang aturan mengenai pencemaran dalam SOFA ini kepada masyarakat Okinawa.

Masalah Pembelaan terhadap Prajurit

Perjanjian Status of Forces Agreement (SOFA) merupakan kekuatan hukum bagi Amerika Serikat untuk melakukan pembelaan terhadap prajuritnya yang bermasalah dalam pelanggaran kejahatan dan pelanggaran kecelakaan lalu lintas. Jumlah tersangka personil militer yang mengakui kriminalitas yang diperbuatnya mencapai 678 orang. Pembelaan ini tetap dilakukan walaupun oknum pelaku dari prajurit Amerika Serikat itu mengakui kejahatannya.

Ketika terjadi kasus hukum yang dilakukan oleh personil militernya, maka Amerika Serikat mengirimkan pasukannya yang memiliki hak hukum utama sesuai dengan kesepakatan dalam SOFA.

Masalah-masalah hukum yang terabaikan akibat kesepakatan SOFA ini antara lain:

  • Tidak ada satupun pengadilan yang pernah digelar terhadap oknum prajurit Amerika Serikat yang melakukan pelanggaran hukum. Tercatat bahwa 45.000 kejahatan dan kecelakaan yang dilakukan oleh prajurit Amerika Serikat.
  • Tidak adanya kepatuhan berlalu lintas oleh prajurit-prajurit Amerika Serikat dengan menggunakan alasan “terburu-buru karena sedang melaksanakan tugas”.

Secara umum, setiap negara di dunia memiliki yurisdiksi utama terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di wilayahnya. Namun, Jepang seringkali menanggalkan hak hukumnya ini karena harus tunduk pada hak istimewa personil militer Amerika Serikat.

Tuntutan dari Warga Sipil Okinawa

Pada tahun 1996 diadakan jajak pendapat mengenai peninjauan kembali kesepakatan Status of Forces Agreement (SOFA) dan pengurangan serta pengaturan kembali pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat. Referendum itu diikuti hampir 60 persen penduduk Okinawa. Hasilnya adalah sebanyak 91,26 persen warga Okinawa setuju bahwa perlu ada peninjauan kembali atas SOFA dan perlunya pengurangan dan pengaturan kembali pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di pulau itu. Warga Okinawa setuju untuk dilakukannya pengembalian pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat kepada Okinawa dalam tiga tahap untuk sebelum tahun 2015. Pengembalian itu bermaksud agar Okinawa menjadi kembali bebas dari pangkalan-pangkalan militer.

Namun, Amerika Serikat menolak untuk memenuhi tuntutan penduduk Okinawa tersebut. Amerika Serikat tetap mempertahankan pasukan-pasukannya di prefektur Okinawa. Justru, Amerika Serikat menghendaki supaya Jepang membangun pangkalan militer baru di tempat lain di Okinawa sebagai pengganti pangkalan-pangkalan militer yang dikembalikan kepada Okinawa. Amerika Serikat juga menolak untuk merevisi perjanjian SOFA.

Faktor Reduksional dan Status Quo dari Kalangan Parlemen

Dengan berakhirnya Perang Dingin, partai-partai reformis yang dulu mendukung blok Soviet terutama partai Komunis dan partai Sosialis telah mengalami penurunan pengaruh di dalam arena politik Jepang. Partai DPJ di lain pihak berada di antara reformis dan golongan pro-Amerika. Di dalam Majelis Okinawa sendiri hampir 40 persen anggota-anggotanya adalah dari kalangan reformis atau golongan kiri dan tidak ada di antaranya anggota-anggota partai DPJ. Hal ini menyebabkan terdapat dua kelompok yang berseberangan yaitu:

  1. Golongan konservatif yang mendukung aliansi keamanan Amerika Serikat dan Jepang. Kelompok ini menganggap bahwa pengurangan pangkalan-pangkalan militer di Okinawa akan menyebabkan gangguan terhadap aliansi ini.
  2. Golongan reformis yang bertentangan dengan aliansi keamanan Amerika Serikat dan Jepang. Golongan ini menginginkan pemindahan pangkalan-pangkalan militer dari Okinawa secara keseluruhan.


Golongan konservatif tetap menganggap aliansi keamanan ini penting karena sejumlah alasan. Dari segi kekuatan militer, aliansi keamanan antara Amerika Serikat dan Jepang merupakan aliansi paling tangguh dan terkuat di Asia sejak era pasca-Perang Dingin.

Hal ini menjadi penting karena merupakan kombinasi dari dua pemimpin kekuatan ekonomi global dengan anggaran militer berperingkat No. 1 dan No. 4 di dunia. Kedua negara ini juga merupakan raksasa-raksasa penghasil teknologi terkemuka di dunia.

Sumber:

http://www.comw.org/qdr/fulltext/0907dancs.pdf

http://csis.org/files/media/csis/events/050315_okinawa.pdf

http://www.genuinesecurity.org/partners/report/Okinawa.pdf

http://www.isis.org.my/attachments/364_MilitaryTransformation-Implications.pdf

http://www.jcp.or.jp/tokusyu/okinawa/Okinawa.pdf

http://www.scribd.com/doc/13672245/Okinawa-Liberating-Washington039s-East- Asian-Military-Colony-Cato-Policy-Analysis

http://www.scribd.com/document_downloads/direct/13672245?extension=pdf&ft=128 6278549&lt=1286282159&uahk=+1z0XAyI6sMlfCPUrvBuvoCGb2A

http://www.scribd.com/document_downloads/direct/7291551?extension=pdf&ft=1286 278915&lt=1286282525&uahk=X8h5+vLrKMn73hWCfKxzIpTPc+I

About these ads

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Tulisan ini dipublikasikan di Atmosfer-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s