Tuhan Tidak Bermain Dadu


Oleh: Pdt. Roy Alexander Surjanegara

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja mengajarkan anak saya bermain “Ular Tangga”. Saya rasa kita semua mengenal permainan klasik ini. Tujuan utamanya adalah untuk menjadi yang pertama mencapai kotak ke-100. Untuk bisa melangkah, Anda harus melempar dadu dan kemudian menggerakkan pion Anda sesuai dengan jumlah yang muncul. Tidak ada yang bisa Anda lakukan selain mengikuti hasil dadu tersebut. Langkah kecil atau besar, mendapat hadiah “naik tangga” atau hukuman “digigit ular”, semua akan tergantung pada angka yang kebetulan muncul.

Iman VS Rasio

Ketika rasio manusia tidak mampu menjelaskan banyak hal yang terjadi di alam semesta, muncul kecenderungan untuk menganggap kehidupan adalah seperti permainan “Ular Tangga”. Seolah-olah kehidupan hanyalah hasil sampingan dari suatu kejadian yang tidak disengaja di alam.

Pola pikir yang demikian sebenarnya merupakan sebuah tandingan terhadap kepicikan cara pandang sebagian umat beragama itu sendiri, yang kita kenal dengan istialh fundamentalisme. Salah satu karakteristik dasar dari fundamentalisme agama adalah: hanya ada satu cara untuk memandang kebenaran Alkitab, kebenaran literer. Sebagaimana yang tertulis, maka seperti itulah yang benar. Sehingga, jika Anda menafsir maka Firman Tuhan selain dengan cara “fundamentalis” itu, maka Anda akan dicap “tidak Alkitabiah “ dan sesat.

Sikap fundamentalisme agama ini ternyata tidak mampu berdamai dengan berbagai hasil penelitian arkeologis, penelitian tentang usia bumi, dan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan lainnya yang tampak bertentangan dengan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian I. Teori evolusi spesies Darwin, teori Ledakan Besar (Big Bang) - dan berbagai teori lain tentang penciptaan alam semesta, serta berbagai kesimpulan ilmiah yang tidak sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab, kemudian dicap sebagai sebuah serangan terhadap iman Kristen.

Iman seolah-olah bertentangan dengan rasio.

Copernicus dan Galileo

Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei merupakan dua nama yang sangat tersohor karena keberanian mereka untuk tetap beriman tanpa membutakan rasio. Berdasarkan kalkulasi ilmiah, mereka berdua menyimpulkan bahwa matahari adalah pusat tata surya – bukan bumi.

Namun, hasil karya mereka mendapat tentangan keras dari tokoh-tokoh gereja saat itu, yang berpegang teguh pada penafsiran harfiah (literer) atas Mazmur 93:1, 96:10, I Tawarikh 16:30, dan Pengkhotbah 1:5.

Ayat-ayat ini jika ditafsir secara harfiah, seolah menyatakan bahwa bumi tidak bergerak dan mataharilah yang terbit dan tenggelam mengitari bumi.

Saat ini kita tidak dapat lagi mendukung pandangan gereja tersebut. Secara jelas telah terbukti bahwa bumi berputar pada porosnya dan bergerak mengitari matahari sebagai pusat dari tata surya. Semakin jelas bagi kita bahwa kebenaran Alkitab, bukanlah kebenaran “ensiklopedia ilmu pengetahuan”.

Ada kebenaran yang lebih hakiki yang hendak Tuhan sampaikan kepada umat-Nya yang tidak bertentangan akal.

Pengalaman hidup Copernicus dan Galileo yang mengalami tekanan dari para tokoh gereja pada saat itu, menunjukkan betapa berbahayanya memahami kebenaran Firman Tuhan dengan sikap picik (berpandangan sempit) fundamentalisme agama. Beriman adalah suatu sikap yang supra-rasional (melampaui akal), tetapi bukan irrasional (bertentangan/ tidak masuk akal).

“God does not play dice with the universe”

Ungkapan ini merupakan saduran dari surat Albert Einstein kepada seorang temannya. Dalam surat tersebut, Einstein menyampaikan bahwa semua ilmu pengetahuan yang ia kuasai ternyata tidak mampu menggoyahkan keyakinannya terhadap peran Tuhan dalam alam semesta.

Hal ini selaras dengan keyakinan iman Kristen, bahwa kehidupan tercipta bukan sebagai sebuah kebetulan. Manusia hadir di tengah-tengah alam semesta, bukan sekedar hasil dari sebuah “lemparan dadu”. Ada sebuah rancangan dan penugasan Ilahi di dalam keberadaan kita sebagai ciptaan Tuhan.

Hanya karena secara rasio ilmu pengetahuan, manusia dapat membuktikan bahwa penciptaan alam semesta tidak terjadi sesuai dengan deskripsi kitab Kejadian I, tidak otomatis berarti bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Di balik mekanisme kisah penciptaan tersebut, ada sebuah kebenaran  hakiki yang Tuhan hendak sampaikan kepada manusia: bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan manusia dengan sengaja.

Rancangan Tuhan dan Peran Manusia

Penciptaan merupakan sebuah karya proaktif Allah, yang disertai dengan sebuah tujuan Ilahi (Kejadian 1:28). Keberadaan kita di dunia ini tidak lepas dari sebuah rancangan yang Ia berikan kepada kita (Yeremia 29:11).

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Memahami bahwa hidup kita bukanlah hasil dari “lemparan dadu”, seharusnya membuat kita merenungkan dan menggumuli apa yang menjadi kehendak Tuhan dari keberadaan kita di dunia. Surat Efesus 2:10 menegaskan hal ini:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Kita mungkin tidak dapat menjelaskan bagaimana persisnya manusia dan alam diciptakan; tetapi dari Efesus 2:10 tadi pesan bagi kita yang amat jelas adalah: keberadaan kita di tengah dunia ini dimaksudkan untuk: 1) Tuhan Allah sendiri yang menciptakan kita, 2) untuk melakukan pekerjaan baik, dan 3) Ia mau agar kita hidup di dalam rancangan Tuhan untuk kita tersebut.”

Oleh karena itu, pertanyaan yang kemudian perlu kita renungkan dalam kehidupan setiap kita masing-masing adalah: pekerjaan baik apa yang dapat Anda lakukan sebagai ciptaan-Nya?

Sumber:

[Warta Jemaat No. 48 Tahun Ke-44 15 Agustus 2010]

[ Gereja Kristen Indonesia Jl. Maulana Yusuf No. 20 Bandung]

About these ads

Tentang protuslanx

Protus-Lanx adalah sebuah alter-ego dari seorang manusia yang terus berusaha memperbaharui diri setiap hari. Temperamental, setia melaksanakan tugas, keras kepala, berpendirian teguh, tidak mudah mempercayai orang lain, dan cenderung serius.
Tulisan ini dipublikasikan di Eksternal-Lanx dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tuhan Tidak Bermain Dadu

  1. Red berkata:

    Harus dipahami dulu konteks kata2 einstein itu. Ketika itu ia menanggapi fenomena fisika kuantum yg mulai marak di kalangan fisikawan. Fisika kuantum benar2 merevolusi cara berpikir tentang alam semesta termasuk tentang masalah iman. Itulah yg meresahkan beliau ehehe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s